DAFTAR
ISI
Kata Pengantar
………………………………………………………………………………….... i
Daftar Isi
………………………………………………………………………………………… ii
BAB I :
PENDAHULUAN
………………………………………………………………………………. 1
A.PENGERTIAN HADITS DAN ILMU HADITS
…………………………………………….. 1
1.Pengertian Hadits …………………………………………………………………………….1
2.Pengertian Ilmu Hadits ……………………………………………………………………...
1
BAB II :
SEJARAH
PERKEMBANGAN HADITS ……………………………...……………………… 2
A.Pengertian Sejarah Perkembangan Hadits
……………………………………………………. 2
B.Perkembangan hadits Dari Masa Ke Masa
…………………………………………………… 2
1.Periode Pertama : Perkembangan Hadits Pada Masa Rasulullah
……..……………………. 2
2.Periode Kedua : Perkembangan Hadits Pada Masa
Sahabat ……………………………….. 5
3.Periode Ketiga : Perkembangan Hadits Pada Masa
Thabi’in ………………………………. 6
BAB III :
PENUTUP ………………………………………………………………………………………. 8
DAFTAR PUSTAKA
ii
BAB
I
PENDAHULUAN
A.PENGERTIAN
HADITS DAN ILMU HADITS
1.PENGERTIAN
HADITS
Kata hadits
berasal dari bahasa Arab. Secara etimologis, kata ini memiliki banyak arti,
diantaranya : al-jadid (yang baru), lawan dari qadim (yang lama), dan
al-khabar, yang berarti kabar atau berita.
Secara terminologis, terdapat pandangan yang berbeda-beda
diantara para ulama, diantaranya :
Menurut istilah para ahli ushul fiqih adalah “hadits
adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW selain Al-Qur’an, baik
berupa perkataan, perbuatan, maupun taqrir nabi yang bersangkut paut dengan
hukum syara”.
Sementara dari kalangan ulama ada yang menyatakan bahwa
yang dikatakan hadits itu bukan hanya yang berasal dari Nabi SAW (Marfu’) saja,
tapi juga yang berasal dari sahabat (Mauquf), dan Ulama hadits mendefinisikan
hadits sebagai “segala sesuatu yang diberitakan dari Nabi SAW baik berupa
perbuatan, sifat, maupun hal ihwal Nabi”.yang berasal dari thabi’in (Maqtu’).
2.PENGERTIAN
ILMU HADITS
Ilmu hadits adalah ilmu tentang hadits.Ilmu adalah
kumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematis dan sistemik, dalam bidang
tertentu serta memiliki objek bahasan yang jelas.
Ilmu hadits disebut juga ilmu Musthalah hadits.Menurut
bahasa, Musthalah berarti:”sesuatu yang telah disetujui”.Sedangkan menurut
istilah adalah “lafadz-lafadz yang diistilahkan untuk suatu makna oleh ulama
hadits dan dipergunakan dalam bahasan mereka”.
Disebut ilmu musthalah, disamping karena prosesnya yang
terdiri dari kesepakatn penggunan istilah-istilah yang sangat ketat
pengertiannya antara satu dengan yang lainnya.
1
Dari
pembahasan itu, dikenal ada dua pembagian ilmu hadits dalam arti luas.Pertama,
pembagiannya pada ilmu hadits dan ilmu ushul hadits.Kedua, pembagiannya pada
ilmu riwayah dan dirayah.
Hubungan
antara ilmu hadits dan ilmu ushul hadits seperti hubungan antara ilmu fiqh dan
ushul fiqh.Pengenalan dan pembedaan nilai hadits melalui pengetahuan tentang
perawi, sanad, dan matan.Pembahasan masalah tersebut dengan mempergunakan
kaidah-kaidahnya dilakukan oleh ushul hadits.
Ilmu
riwayah, dalam prakteknya membahas tentang proses periwayatan hadits, yakni
proses penerimaan hadits, pemeliharaan dalam hafalan, pengamalan, dan
tulisan-tulisan, serta penyampaiannya kepada orang lain baik secara lisan atau
tertulis. Sedangkan ilmu dirayah membicarakan kaidah tentang keadaan matan yang
diriwayatkan, hal ihwal rawi, baik perawi penyampai maupun rawi penerima.
2
BAB
II
SEJARAH
PERKEMBANGAN HADITS
A.PENGERTIAN
SEJARAH PERKEMBANGAN HADITS
Sejarah
perkembangan hadits adalah periode yang telah dilalui oleh hadits, semenjak
dari masa lahirnya hadits sampai sekarang yang telah mengalami pertumbuhan
pengenalan, penghayatan, dan pengamalan umat dari generasi ke generasi.
Mempelajari suatu materi obyek dari macam macam ilmu
harus dibarengi dengan mempelajari sejarah tumbuh dan perkembangan dari ilmu
tersebut.sejarah merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari materi suatu
ilmu.
B.PERKEMBANGAN
HADITS DARI MASA KE MASA
1.Periode
Pertama : Perkembangan Hadits Pada Masa Rasulullah
Apabila membicarakan hadits pada masa Rasulullah berarti
membicarakan hadits pada awal pertumbuhannya. Maka dalam uraiannya akan
berkaitan langsung dengan pribadi Rasulullah sebagai sumber hadits. Wahyu yang
diturunkan Allah swt kepada Rasulullah dijelaskannya melalui perkataan,
perbuatan dan penetapannya (taqrir), sehingga apa yang didengar,
dilihat, dan disaksikan oleh para sahabat dapat dijadikan pedoman bagi
‘amaliyah dan ‘ubudiyah mereka.
Satu keistimewaan pada masa ini yang membedakan dengan masa
lainnya yakni umat Islam dapat secara langsung memperoleh hadits dari
Rasulullah sebagai sumber hadits.Pada masa ini tidak ada jarak atau hijab yang
dapat menghambat atau mempersulit pertemuan mereka.Beberapa cara yang dilakukan
oleh Rasulullah dalam menyampaikan hadits kepada para sahabat, yaitu:
- Melalui
para jama’ah yang berada di pusat pembinaan atau majelis ‘ilmi. Melalui
majelis ini, para sahabat memperoleh banyak peluang untuk menerima hadits
secara langsung dari Rasulullah.
- Rasulullah
menyampaikan pada sahabat tertentu, kemudian mereka menyampaikannya pada
sahabat yang lain.
3
3.Melalui ceramah atau pidato di
tempat terbuka, seperti ketika haji wada’ dan fathu makkah.
Rosulullah SAW bersabda : Sampaikanlah olehmu apa yang
berasal dariku, kendati hanya satu ayat!”. Perintah tersebut membawa pengaruh
yang sangat baik untuk menyebarkan hadits. Karena secara bertahap, seluruh
masyarakat muslim baik yang berada di Madinah maupun yang di luar Madinah akan
segera mengetahui hukum–hukum agama yang telah diajarkan oleh Rasulullah.
Meskipun sebagian dari mereka tidak memperoleh langsung dari Rasulullah, mereka
akan memperoleh dari saudara–saudara mereka yang mendengar langsung dari
Rasulullah. Metode penyebaran hadits tersebut berlanjut sampai Haji Wada’ dan
wafatnya Rasulullah.Faktor-faktor yang mendukung percepatan penyebaran hadits
di masa Rasulullah :
a.Rasulullah sendiri rajin menyampaikan dakwahnya.
b.Karakter
ajaran Islam sebagai ajaran baru telah membangkitkan semangat orang di
lingkungannya untuk selalu mempertanyakan kandungan ajaran agama ini,
selanjutnya secara otomatis tersebar ke orang lain secara berkesinambungan.
c.Peranan istri Rasulullah amat besar
dalam penyiaran Islam, hadits termasuk di dalamnya.
Penyebaran hadits-hadits pada masa Rasulullah hanya
disebarkan lewat mulut ke mulut (secara lisan).Hal ini bukan hanya dikarenakan
banyak sahabat yang tidak bisa menulis hadits, tetapi juga karena Nabi melarang
untuk menulis hadits. Beliau khawatir hadits akan bercampur dengan ayat-ayat
Al-Quran.
Hadits pada
waktu itu umumnya hanya diingat dan dihafal oleh sahabat dan tidak ditulis
seperti Al Quran ketika disampaikan Nabi, karena situasi dan kondisi yang tidak
memungkinkan. Secara
resmi memang Nabi melarang menulis hadits bagi umum karena khawatir akan
bercampur dengan Al Quran.
4
Adapun
faktor-faktor utamadan terpenting yang menyebabkan Rasulullah melarang
penulisan dan pembukuan hadits adalah :
a.Khawatir
terjadi kekaburan antara ayat-ayat al-Qur’an dan hadits Rasul bagi orang-orang
yang baru masuk Islam.
b.Takut
berpegangan atau cenderung menulis hadits tanpa diucapkan atau ditela’ah.
c.Khawatir
orang-orang awam berpedoman pada hadits saja.
2.Periode
Kedua : Perkembangan Hadits Pada Masa Shahabat
Sahabat adalah
mereka yang bertemu dengan Rasulullah saw dalam keadaan mu’min dan meninggal dalam
keadaan mu’min. Setelah Rasul SAW wafat, pemerintahan Islam dilanjutkan oleh
sahabat-sahabatnya.Abu Bakar terpilih menjadi khalifah menggantikan kedudukan
Nabi Muhammad SAW sebagai pemimpin temporal (politik) umat Islam, sekaligus
mengurus perjuangan spritual menegakkan syari’at Islam.Pada awalnya dua hal ini
adalah satu seperti dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Setelah Abu
Bakar, estafet kepemimpinan dilanjutkan secara bergantian oleh Umar bin
al-Khat-tab, Usman bin Affan, dan ‘Ali bin Abi Thalib. Sunnah di dalam
pemerintahan khalifah ar-Rasyidun tersebut tetap menjadi pegangan utama sahabat
setelah Al Qur’an.Dalam dua pemerintahan Islam, Abu Bakar dan Umar, tidak
ditemukan gerakan periwayatan sunnah yang signifikan sebagaimana yang terjadi
setelahnya. Pada pemerintahan Abu Bakar, konsentrasi umat terpusat pada upaya
konsolidasi dan meredam pemberontakan kelompok murtad, Nabi palsu, dan
pengingkar zakat.Pada paruh akhir kekuasaannya, perhatian tertuju pada
pengumpulan dan kodifikasi Al Qur’an.Demikian juga dalam masa pemerintahan
Umar. Khalifah Umar, sangat selektif menerima riwayat, bahkan terkesan sangat
hati-hati.
5
Dalam masa
pemerintahan Usman dan Ali, suasana telah berubah, maka mulailah muncul
berbagai riwayat, tidak terkecuali adanya pemalsuan yang dilakukan non sahabat
untuk mendukung fraksi-fraksi politik umat.Selain Al Qur’an sebagai sumber
pertama hukum Islam, Sunnah Rasulullah SAW menempati urutan kedua. Ketika
menjelang wafatnya Rasul SAW ia bersabda, “Aku meninggalkan bagi kamu dua hal,
jika kamu berpegang kepadanya, kamu tidak akan tersesat, yaitu kitab Allah dan
sunnahku.” Para sahabat berpegang teguh dengan wasiat Rasul SAW tersebut.
3. Periode
Ketiga : Perkembangan Hadits Pada Masa Tabi’in
Peranan
Tabi’in dalam pertumbuhan sejarah hadist tidak dapat dipungkiri merupakan salah
satu pernanan besar dalam kesinambungan dan pemeliharaan hadist.Khusunya setelah
masa pemerinatahan Utsman dan Ali.Setelah berakhirnya masa pemerintahan Ali Bin
Ali Thalib, mulailah usaha dan kesungguhan mencari hadist dan menghafal hadist
oleh kalangan Tabi’in dengan mengadakan perjalanan untuk sekedar mencari ilmu
(ilmu ketika itu berupa pencarian hadist-hadist Nabi).
Tabi’in Orang
Islam yang bertemu dengan sahabat, berguru dan belajar kepada sahabat, tapi
tidak bertemu dengan Nabi dan tidak pula semasa dengan Nabi.Tabi’in Besar
(Kibar Tabi’in) Tabi’in yang banyak bertemu sahabat, belajar dan berguru kepada
mereka. Peranan Tabi’in dalam kesinambungan dan pemeliharaan hadist. Khusunya
setelah masa pemerinatahan Utsman dan Ali.Setelah berakhirnya masa pemerintahan
Ali Bin Ali Thalib, mulailah usaha dan kesungguhan mencari hadist dan menghafal
hadist oleh kalangan Tabi’in dengan mengadakan perjalanan untuk sekedar mencari
ilmu.Setelah Islam menguasai Syam (Jordan sekarang), Irak, Mesir, Samarkand
(Asia) dan Spanyol, para sahabat banyak berhijrah ke daerah-daerah baru itu
untuk berdakwah dan sekaligus mendirikan madrasah-madrasah sebagai wadah untuk
menyebarkan ilmu.Dengan demikian, para tabi’in ini menerima hadist dari para
sahabat sekaligus mereka pula belajar kepada sahabat tentang makna dan arti
hadist yang mereka terima.
6
Terkadang
para tabi’in mengklasifikasi penerimaan hadist mereka dengan beberapa kategori,
artinya mereka mementingkan kriteria yang pertama kemudian kedua dan
seterusnya. Kriteria itu adalah :
1. Sahabat yang pertamna kali masuk Islam, seperti:
Khulafa Rasyidin, Abdullah Ibn Mas’ud dll
2. Sahabat yang terus-menerus hidup bersama Nabi dan kuat hafalannya seperti: Abu Hurairah, Ibnu Abbas dll
2. Sahabat yang terus-menerus hidup bersama Nabi dan kuat hafalannya seperti: Abu Hurairah, Ibnu Abbas dll
3. Selain mendengar hadist langsung dari Nabi dan
dari sahabat lainya, sahabat inipun panjang umurnya, seperti: Anas Bin Malik
dll
4. Riwayat dari para istri Nabi
5. Sahabat yang memiliki catatan hadist pribadi, seperti, Abdullah Bin Ash dll Tokoh-Tokoh Hadist Di Kalangan Tabi’in Di Madinah: Sa’id Ibn Musayyab. Al-Qasim Ibn Muhammad Abu Bakr, Urwah bin Zubair, Kharijah Ibn Zaid, Abu Ayyub Sulaiman Hilali, Ubaidullah Ibn Utbah, Abu Salamah Ibn Abdurahman ibn Auf, Nafi, Az-Zuhry, Sulaiman Ibn Yassar dll Di Mekkah: Ikrimah, Atha Ibn Aii Rabah, Dhohak, (ketiganya murid Ibn Abbas), Abul Zubair dll Di Kuffah: Asy-Sya’by, Ibrahim An-Nakhai, Alqamah an-Nakhai dll Basrah: Hasan al-Bashri, Muhammad ibn Sirrin, Qatadah Di Syam: Umar ibn Abdil Aziz, Qabishah dll Di Mesir: Yazid Ibn Habib Di Yaman: Wahhab ibn Munabbih dll.
5. Sahabat yang memiliki catatan hadist pribadi, seperti, Abdullah Bin Ash dll Tokoh-Tokoh Hadist Di Kalangan Tabi’in Di Madinah: Sa’id Ibn Musayyab. Al-Qasim Ibn Muhammad Abu Bakr, Urwah bin Zubair, Kharijah Ibn Zaid, Abu Ayyub Sulaiman Hilali, Ubaidullah Ibn Utbah, Abu Salamah Ibn Abdurahman ibn Auf, Nafi, Az-Zuhry, Sulaiman Ibn Yassar dll Di Mekkah: Ikrimah, Atha Ibn Aii Rabah, Dhohak, (ketiganya murid Ibn Abbas), Abul Zubair dll Di Kuffah: Asy-Sya’by, Ibrahim An-Nakhai, Alqamah an-Nakhai dll Basrah: Hasan al-Bashri, Muhammad ibn Sirrin, Qatadah Di Syam: Umar ibn Abdil Aziz, Qabishah dll Di Mesir: Yazid Ibn Habib Di Yaman: Wahhab ibn Munabbih dll.
Para tabi’in
memperoleh hadits dari para sahabat.Mereka berbaur dan mengenal segala sesuatu
dari para sahabat dan mereka juga membawa sebgaian besah hadis Rasul dan para
sahabat.Mereka benar-benar mengetahui kapan para sahabat melarang penulisan
hadis dan kapan mereka memperbolehkannya.Mereka benar-benar mengambil teladan dari
para sahabat yang merupakan generasi pertama yang membwa Alquran dan hadis.
7
BAB III
PENUTUP
Betapa besar
nikmat yang telah dirasakan oleh umat manusia saat ini. Dapat mengkaji dan
meneliti akan sebuah hadits dengan mudahnya, melalui kitab-kitab hadis yang
telah terkodifikasi oleh para ulama dahulu. Andaikan dahulu, para sahabat dan
tabi’in tidak terbersit dalam pikiran mereka untuk mengkodifikasi hadits-hadits
Nabi, mungkin sekarang ini manusia sulit dalam menentukan segala macam hukum
dan permasalahan yang muncul.
Penyebaran Hadist di masa sahabat dan tabi’in berkembang pesat yang ditandai dengan gerakan mencari ilmu oleh para sahabat sendiri kepada sahabat lainnya dari masalah yang tidak diketahuinya.Tidak jarang seorang sahabat pergi menemui sahabat lainya yang berjarak ribuan kilometer untuk menanyakan hanya satu hadist saja.Begitu pula para tabi’in yang tidak segan-segan mendatangi daerah tertentu untuk belajar kepada seorang sahabat ataupun beberapa sahabat sekaligus.Pencariaan ilmu saat itu berupa pencarian tafsir Qur’an dan hadist-hadist Nabi beserta penjelasan nya.Islam tersebar luas dan terus mengeliat ketika itu dibawah dakwah para sahabat dan tabi’in.Mereka giat menyiarkan Al-Qur’an dan hadist Nabi sebagai sumber pokok ajaran Islam.
Penyebaran Hadist di masa sahabat dan tabi’in berkembang pesat yang ditandai dengan gerakan mencari ilmu oleh para sahabat sendiri kepada sahabat lainnya dari masalah yang tidak diketahuinya.Tidak jarang seorang sahabat pergi menemui sahabat lainya yang berjarak ribuan kilometer untuk menanyakan hanya satu hadist saja.Begitu pula para tabi’in yang tidak segan-segan mendatangi daerah tertentu untuk belajar kepada seorang sahabat ataupun beberapa sahabat sekaligus.Pencariaan ilmu saat itu berupa pencarian tafsir Qur’an dan hadist-hadist Nabi beserta penjelasan nya.Islam tersebar luas dan terus mengeliat ketika itu dibawah dakwah para sahabat dan tabi’in.Mereka giat menyiarkan Al-Qur’an dan hadist Nabi sebagai sumber pokok ajaran Islam.
8
DAFTAR
PUSTAKA
Al-Jauziyah, Ibn Qayyim.I’lam al-Muwaqqi’in.Juz
I.
Anas, Malik bin. 1990. al-Muwaththa’, Istambul,
Turki: Dar al-Sahnun.
Arifin, Zainul. 2005. Studi Kitab Hadits.
Surabaya: Alpha.
Ash-Shalih, Shubhi. 1977. ‘Ulum al-Hadits wa
Musthalahuh. Beirut, Libanon: Dar al-Ilm al-Malayin.
Hanbal, Ahmad bin. 1990. Musnad Ahmad bin Hanbal.
Juz I. Istambul Turki: Dar al-Sahnun.
Khon, Abdul Majid. 2008. Ulumul Hadits. Jakarta:
Amzah.
Suparta, Munzier. 1993. Ilmu Hadits. Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada.
Zahw, Muhammad Abu. tt. Al-Hadits wa
al-Muhadditsun. Matba’ah Mishr.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar