Senin, 09 Maret 2015

SEJARAH PERKEMBANGAN HADITS

DAFTAR ISI
Kata Pengantar ………………………………………………………………………………….... i
Daftar Isi ………………………………………………………………………………………… ii

BAB I :
PENDAHULUAN ………………………………………………………………………………. 1
A.PENGERTIAN HADITS DAN ILMU HADITS …………………………………………….. 1
1.Pengertian Hadits …………………………………………………………………………….1
2.Pengertian Ilmu Hadits ……………………………………………………………………... 1

BAB II :
SEJARAH  PERKEMBANGAN HADITS ……………………………...……………………… 2
A.Pengertian Sejarah Perkembangan Hadits ……………………………………………………. 2
B.Perkembangan hadits Dari Masa Ke Masa …………………………………………………… 2
1.Periode Pertama : Perkembangan Hadits Pada Masa Rasulullah ……..……………………. 2
2.Periode Kedua : Perkembangan Hadits Pada Masa Sahabat ……………………………….. 5
3.Periode Ketiga : Perkembangan Hadits Pada Masa Thabi’in ………………………………. 6

BAB III :
PENUTUP ………………………………………………………………………………………. 8
DAFTAR PUSTAKA



ii
BAB I
PENDAHULUAN

A.PENGERTIAN HADITS DAN ILMU HADITS
1.PENGERTIAN HADITS
            Kata hadits berasal dari bahasa Arab. Secara etimologis, kata ini memiliki banyak arti, diantaranya : al-jadid (yang baru), lawan dari qadim (yang lama), dan al-khabar, yang berarti kabar atau berita.
            Secara terminologis, terdapat pandangan yang berbeda-beda diantara para ulama, diantaranya :
            Menurut istilah para ahli ushul fiqih adalah “hadits adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW selain Al-Qur’an, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun taqrir nabi yang bersangkut paut dengan hukum syara”.
            Sementara dari kalangan ulama ada yang menyatakan bahwa yang dikatakan hadits itu bukan hanya yang berasal dari Nabi SAW (Marfu’) saja, tapi juga yang berasal dari sahabat (Mauquf), dan Ulama hadits mendefinisikan hadits sebagai “segala sesuatu yang diberitakan dari Nabi SAW baik berupa perbuatan, sifat, maupun hal ihwal Nabi”.yang berasal dari thabi’in (Maqtu’).

2.PENGERTIAN ILMU HADITS
            Ilmu hadits adalah ilmu tentang hadits.Ilmu adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematis dan sistemik, dalam bidang tertentu serta memiliki objek bahasan yang jelas.
            Ilmu hadits disebut juga ilmu Musthalah hadits.Menurut bahasa, Musthalah berarti:”sesuatu yang telah disetujui”.Sedangkan menurut istilah adalah “lafadz-lafadz yang diistilahkan untuk suatu makna oleh ulama hadits dan dipergunakan dalam bahasan mereka”.
            Disebut ilmu musthalah, disamping karena prosesnya yang terdiri dari kesepakatn penggunan istilah-istilah yang sangat ketat pengertiannya antara satu dengan yang lainnya.
           
1
Dari pembahasan itu, dikenal ada dua pembagian ilmu hadits dalam arti luas.Pertama, pembagiannya pada ilmu hadits dan ilmu ushul hadits.Kedua, pembagiannya pada ilmu riwayah dan dirayah.
Hubungan antara ilmu hadits dan ilmu ushul hadits seperti hubungan antara ilmu fiqh dan ushul fiqh.Pengenalan dan pembedaan nilai hadits melalui pengetahuan tentang perawi, sanad, dan matan.Pembahasan masalah tersebut dengan mempergunakan kaidah-kaidahnya dilakukan oleh ushul hadits.
Ilmu riwayah, dalam prakteknya membahas tentang proses periwayatan hadits, yakni proses penerimaan hadits, pemeliharaan dalam hafalan, pengamalan, dan tulisan-tulisan, serta penyampaiannya kepada orang lain baik secara lisan atau tertulis. Sedangkan ilmu dirayah membicarakan kaidah tentang keadaan matan yang diriwayatkan, hal ihwal rawi, baik perawi penyampai maupun rawi penerima.















2
BAB II
SEJARAH PERKEMBANGAN HADITS

A.PENGERTIAN SEJARAH PERKEMBANGAN HADITS
            Sejarah perkembangan hadits adalah periode yang telah dilalui oleh hadits, semenjak dari masa lahirnya hadits sampai sekarang yang telah mengalami pertumbuhan pengenalan, penghayatan, dan pengamalan umat dari generasi ke generasi.
            Mempelajari suatu materi obyek dari macam macam ilmu harus dibarengi dengan mempelajari sejarah tumbuh dan perkembangan dari ilmu tersebut.sejarah merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari materi suatu ilmu.
B.PERKEMBANGAN HADITS DARI MASA KE MASA
1.Periode Pertama : Perkembangan Hadits Pada Masa Rasulullah
            Apabila membicarakan hadits pada masa Rasulullah berarti membicarakan hadits pada awal pertumbuhannya. Maka dalam uraiannya akan berkaitan langsung dengan pribadi Rasulullah sebagai sumber hadits. Wahyu yang diturunkan Allah swt kepada Rasulullah dijelaskannya melalui perkataan, perbuatan dan penetapannya (taqrir), sehingga apa yang didengar, dilihat, dan disaksikan oleh para sahabat dapat dijadikan pedoman bagi ‘amaliyah dan ‘ubudiyah mereka.
Satu keistimewaan pada masa ini yang membedakan dengan masa lainnya yakni umat Islam dapat secara langsung memperoleh hadits dari Rasulullah sebagai sumber hadits.Pada masa ini tidak ada jarak atau hijab yang dapat menghambat atau mempersulit pertemuan mereka.Beberapa cara yang dilakukan oleh Rasulullah dalam menyampaikan hadits kepada para sahabat, yaitu:
  1. Melalui para jama’ah yang berada di pusat pembinaan atau majelis ‘ilmi. Melalui majelis ini, para sahabat memperoleh banyak peluang untuk menerima hadits secara langsung dari Rasulullah.
  2. Rasulullah menyampaikan pada sahabat tertentu, kemudian mereka menyampaikannya pada sahabat yang lain.
3
3.Melalui ceramah atau pidato di tempat terbuka, seperti ketika haji wada’ dan fathu makkah.
Rosulullah  SAW  bersabda : Sampaikanlah olehmu apa yang berasal dariku, kendati hanya satu ayat!”. Perintah tersebut membawa pengaruh yang sangat baik untuk menyebarkan hadits. Karena secara bertahap, seluruh masyarakat muslim baik yang berada di Madinah maupun yang di luar Madinah akan segera mengetahui hukum–hukum agama yang telah diajarkan oleh Rasulullah. Meskipun sebagian dari mereka tidak memperoleh langsung dari Rasulullah, mereka akan memperoleh dari saudara–saudara mereka yang mendengar langsung dari Rasulullah. Metode penyebaran hadits tersebut berlanjut sampai Haji Wada’ dan wafatnya Rasulullah.Faktor-faktor yang mendukung percepatan penyebaran hadits di masa Rasulullah :
a.Rasulullah sendiri rajin menyampaikan dakwahnya.
b.Karakter ajaran Islam sebagai ajaran baru telah membangkitkan semangat orang di lingkungannya untuk selalu mempertanyakan kandungan ajaran agama ini, selanjutnya secara otomatis tersebar ke orang lain secara berkesinambungan.
c.Peranan istri Rasulullah amat besar dalam penyiaran Islam, hadits termasuk di dalamnya.     
Penyebaran hadits-hadits pada masa Rasulullah hanya disebarkan lewat mulut ke mulut (secara lisan).Hal ini bukan hanya dikarenakan banyak sahabat yang tidak bisa menulis hadits, tetapi juga karena Nabi melarang untuk menulis hadits. Beliau khawatir hadits akan bercampur dengan ayat-ayat Al-Quran.
Hadits pada waktu itu umumnya hanya diingat dan dihafal oleh sahabat dan tidak ditulis seperti Al Quran ketika disampaikan Nabi, karena situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan. Secara resmi memang Nabi melarang menulis hadits bagi umum karena khawatir akan bercampur dengan Al Quran.

4
Adapun faktor-faktor utamadan terpenting yang menyebabkan Rasulullah melarang penulisan dan pembukuan hadits adalah :
a.Khawatir terjadi kekaburan antara ayat-ayat al-Qur’an dan hadits Rasul bagi orang-orang yang baru masuk Islam.
b.Takut berpegangan atau cenderung menulis hadits tanpa diucapkan atau ditela’ah.
c.Khawatir orang-orang awam berpedoman pada hadits saja.
2.Periode Kedua : Perkembangan Hadits Pada Masa Shahabat
Sahabat adalah mereka yang bertemu dengan Rasulullah saw dalam keadaan mu’min dan meninggal dalam keadaan mu’min. Setelah Rasul SAW wafat, pemerintahan Islam dilanjutkan oleh sahabat-sahabatnya.Abu Bakar terpilih menjadi khalifah menggantikan kedudukan Nabi Muhammad SAW sebagai pemimpin temporal (politik) umat Islam, sekaligus mengurus perjuangan spritual menegakkan syari’at Islam.Pada awalnya dua hal ini adalah satu seperti dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Setelah Abu Bakar, estafet kepemimpinan dilanjutkan secara bergantian oleh Umar bin al-Khat-tab, Usman bin Affan, dan ‘Ali bin Abi Thalib. Sunnah di dalam pemerintahan khalifah ar-Rasyidun tersebut tetap menjadi pegangan utama sahabat setelah Al Qur’an.Dalam dua pemerintahan Islam, Abu Bakar dan Umar, tidak ditemukan gerakan periwayatan sunnah yang signifikan sebagaimana yang terjadi setelahnya. Pada pemerintahan Abu Bakar, konsentrasi umat terpusat pada upaya konsolidasi dan meredam pemberontakan kelompok murtad, Nabi palsu, dan pengingkar zakat.Pada paruh akhir kekuasaannya, perhatian tertuju pada pengumpulan dan kodifikasi Al Qur’an.Demikian juga dalam masa pemerintahan Umar. Khalifah Umar, sangat selektif menerima riwayat, bahkan terkesan sangat hati-hati.


5
Dalam masa pemerintahan Usman dan Ali, suasana telah berubah, maka mulailah muncul berbagai riwayat, tidak terkecuali adanya pemalsuan yang dilakukan non sahabat untuk mendukung fraksi-fraksi politik umat.Selain Al Qur’an sebagai sumber pertama hukum Islam, Sunnah Rasulullah SAW menempati urutan kedua. Ketika menjelang wafatnya Rasul SAW ia bersabda, “Aku meninggalkan bagi kamu dua hal, jika kamu berpegang kepadanya, kamu tidak akan tersesat, yaitu kitab Allah dan sunnahku.” Para sahabat berpegang teguh dengan wasiat Rasul SAW tersebut.
3. Periode Ketiga : Perkembangan Hadits Pada Masa Tabi’in
Peranan Tabi’in dalam pertumbuhan sejarah hadist tidak dapat dipungkiri merupakan salah satu pernanan besar dalam kesinambungan dan pemeliharaan hadist.Khusunya setelah masa pemerinatahan Utsman dan Ali.Setelah berakhirnya masa pemerintahan Ali Bin Ali Thalib, mulailah usaha dan kesungguhan mencari hadist dan menghafal hadist oleh kalangan Tabi’in dengan mengadakan perjalanan untuk sekedar mencari ilmu (ilmu ketika itu berupa pencarian hadist-hadist Nabi).
Tabi’in Orang Islam yang bertemu dengan sahabat, berguru dan belajar kepada sahabat, tapi tidak bertemu dengan Nabi dan tidak pula semasa dengan Nabi.Tabi’in Besar (Kibar Tabi’in) Tabi’in yang banyak bertemu sahabat, belajar dan berguru kepada mereka. Peranan Tabi’in dalam kesinambungan dan pemeliharaan hadist. Khusunya setelah masa pemerinatahan Utsman dan Ali.Setelah berakhirnya masa pemerintahan Ali Bin Ali Thalib, mulailah usaha dan kesungguhan mencari hadist dan menghafal hadist oleh kalangan Tabi’in dengan mengadakan perjalanan untuk sekedar mencari ilmu.Setelah Islam menguasai Syam (Jordan sekarang), Irak, Mesir, Samarkand (Asia) dan Spanyol, para sahabat banyak berhijrah ke daerah-daerah baru itu untuk berdakwah dan sekaligus mendirikan madrasah-madrasah sebagai wadah untuk menyebarkan ilmu.Dengan demikian, para tabi’in ini menerima hadist dari para sahabat sekaligus mereka pula belajar kepada sahabat tentang makna dan arti hadist yang mereka terima.

6
Terkadang para tabi’in mengklasifikasi penerimaan hadist mereka dengan beberapa kategori, artinya mereka mementingkan kriteria yang pertama kemudian kedua dan seterusnya. Kriteria itu adalah :
1. Sahabat yang pertamna kali masuk Islam, seperti: Khulafa Rasyidin, Abdullah Ibn Mas’ud dll
2. Sahabat yang terus-menerus hidup bersama Nabi dan kuat hafalannya seperti: Abu Hurairah, Ibnu Abbas dll
3. Selain mendengar hadist langsung dari Nabi dan dari sahabat lainya, sahabat inipun panjang umurnya, seperti: Anas Bin Malik dll
4. Riwayat dari para istri Nabi
5. Sahabat yang memiliki catatan hadist pribadi, seperti, Abdullah Bin Ash dll Tokoh-Tokoh Hadist Di Kalangan Tabi’in Di Madinah: Sa’id Ibn Musayyab. Al-Qasim Ibn Muhammad Abu Bakr, Urwah bin Zubair, Kharijah Ibn Zaid, Abu Ayyub Sulaiman Hilali, Ubaidullah Ibn Utbah, Abu Salamah Ibn Abdurahman ibn Auf, Nafi, Az-Zuhry, Sulaiman Ibn Yassar dll Di Mekkah: Ikrimah, Atha Ibn Aii Rabah, Dhohak, (ketiganya murid Ibn Abbas), Abul Zubair dll Di Kuffah: Asy-Sya’by, Ibrahim An-Nakhai, Alqamah an-Nakhai dll Basrah: Hasan al-Bashri, Muhammad ibn Sirrin, Qatadah Di Syam: Umar ibn Abdil Aziz, Qabishah dll Di Mesir: Yazid Ibn Habib Di Yaman: Wahhab ibn Munabbih dll.
Para tabi’in memperoleh hadits dari para sahabat.Mereka berbaur dan mengenal segala sesuatu dari para sahabat dan mereka juga membawa sebgaian besah hadis Rasul dan para sahabat.Mereka benar-benar mengetahui kapan para sahabat melarang penulisan hadis dan kapan mereka memperbolehkannya.Mereka benar-benar mengambil teladan dari para sahabat yang merupakan generasi pertama yang membwa Alquran dan hadis.



7
BAB III
PENUTUP
Betapa besar nikmat yang telah dirasakan oleh umat manusia saat ini. Dapat mengkaji dan meneliti akan sebuah hadits dengan mudahnya, melalui kitab-kitab hadis yang telah terkodifikasi oleh para ulama dahulu. Andaikan dahulu, para sahabat dan tabi’in tidak terbersit dalam pikiran mereka untuk mengkodifikasi hadits-hadits Nabi, mungkin sekarang ini manusia sulit dalam menentukan segala macam hukum dan permasalahan yang muncul.
Penyebaran Hadist di masa sahabat dan tabi’in berkembang pesat yang ditandai dengan gerakan mencari ilmu oleh para sahabat sendiri kepada sahabat lainnya dari masalah yang tidak diketahuinya.Tidak jarang seorang sahabat pergi menemui sahabat lainya yang berjarak ribuan kilometer untuk menanyakan hanya satu hadist saja.Begitu pula para tabi’in yang tidak segan-segan mendatangi daerah tertentu untuk belajar kepada seorang sahabat ataupun beberapa sahabat sekaligus.Pencariaan ilmu saat itu berupa pencarian tafsir Qur’an dan hadist-hadist Nabi beserta penjelasan nya.Islam tersebar luas dan terus mengeliat ketika itu dibawah dakwah para sahabat dan tabi’in.Mereka giat menyiarkan Al-Qur’an dan hadist Nabi sebagai sumber pokok ajaran Islam.







8
DAFTAR PUSTAKA
Al-Jauziyah, Ibn Qayyim.I’lam al-Muwaqqi’in.Juz I.
Anas, Malik bin. 1990. al-Muwaththa’, Istambul, Turki: Dar al-Sahnun.
Arifin, Zainul. 2005. Studi Kitab Hadits. Surabaya: Alpha.
Ash-Shalih, Shubhi. 1977. ‘Ulum al-Hadits wa Musthalahuh. Beirut, Libanon: Dar al-Ilm al-Malayin.
Hanbal, Ahmad bin. 1990. Musnad Ahmad bin Hanbal. Juz I. Istambul Turki: Dar al-Sahnun.
Khon, Abdul Majid. 2008. Ulumul Hadits. Jakarta: Amzah.
Suparta, Munzier. 1993. Ilmu Hadits. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Zahw, Muhammad Abu. tt. Al-Hadits wa al-Muhadditsun. Matba’ah Mishr.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar