BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Persoalan
“Akhlak” di dalam Islam banyak dibicarakan dan dimuat pada Al-Quran dan
Al-Hadits. Sumber tersebut merupakan batasan-batasan dalam tindakan sehari-hari
bagi manusia. Ada yang menjelaskan arti baik dan buruk. Memberi informasi
kepada umat, apa yang semestinya harus diperbuat dan bagaimana harus bertindak,
serta hal apa saja yang tidak boleh dilakukan.
Kita
semua telah mengetahui bahwasannya Akhlak Islami itu sangat penting untuk kita.
Karena dengan akhlak, kita akan bisa menjalani kehidupan ini dengan penuh
manfaat dengan mengharapkan ridla dari Allah SWT. Tetapi, jika sebaliknya
apabila kita tidak mempunyai akhlak yang baik. Maka hidup kita akan tidak
tenang dan terus gelisah. Dalam makalah ini, kami berusaha memaparkan tentang
akhlak islami yang meliputi dari pengertiannya, bagaimana kita harus menjalani
kehidupan ini sesuai dengan status pribadi kita, dan yang lainnya.
B. Rumusan
Masalah
1. Apa
pengerian dari Akhlak Islami?
2. Dari
manakah sumber akhlak islami?
3. Apa
ciri-ciri dari akhlak Islami?
4. Apa
saja ruang lingkup pembahasan dari
akhlak Islami?
5. Apa
saja kaitannya antara Akhlak Islami dengan status pribadi?
C. Tujuan
1. Menjelaskan
pengertian dari Akhlak Islami.
2. Menguraikan
Sumber-sumber dari akhlak islami.
3. Memaparkan
ciri-ciri dari Akhlak Islami.
4. Mengetahui
Ruang lingkup pembahasan dari Akhlak Islami.
5. Memahami
kaitannya antara Akhlak Islami dengan status pribadi.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Akhlak Islami
Secara sederhana Ahklak
Islami dapat diartikan sebagai yang berdasar aliran islam atau Ahklak yang
bersifat Islami.kata Islam yang berada di belakang kata Akhlak dalam hal menepati posisi sebagai sifat.
Dengan demikian Ahklak
Islami adalah perbuatan yang dilakukan dengan mudah,di sengaja,mendarah daging
dan sebenarnya yang di dasarkan pada ajaran islam. Di lihat dari segi sifat
yang Universal, maka Ahklak Islami bersifat Universal. Namun dalam rangka
menjabarkan Akhlak Islam yang Universal ini di perlukan bantuan pemikiran akal
manusia dan kesempatan social yang terkandung dalam ajaran etika dan moral.
Dengan kata lain Ahklak
Islami adalah akhlak yang di samping mengakui adanya nilai-nilai Universal
sebagai dasar bentuk Akhlak,juga mengakui nilai-nilai yang bersifat local dan
temporal sebagai penjabaran atas nilai-nilai yang Universal itu.menghormati
kedua orang tua misalnya adalah Akhlak yang bersifat mutlak dan Universal.
Sedangkan bagaimana bentuk dan cara menghormati kedua orang tua itu dapat
manifestasikan oleh hasil pemikiran manusia yang di pengaruhi oleh kondisi dan
situasi dimana orang yang menjabarkan nilai Universal itu berada. Bagi orang
jawa misalnya menghormati kedua orang tua dengan cara sungkem sambil
menggelesor di lantai.bagi orang sunda menghormati orang tua dengan cara
mencium tangannya. Dan bagi orang Sumatra,menghormati kedua orang tua dengan
cara memeliharanya idup bersama dengan anaknya. Selanjutnya bagi orang barat
berbuat baik kepada orang tua mungkin di lakukan dengan memberikan berbagai
fasilitas hidup dan sebagainya.(1)
Adapun beberapa pendapat menurut para ahli yang
mendefinisikan pengertian tentang Ahklak Islami,di antaranya:
1. Akhlak (Islami) menurut Quraish
Shihab lebih luas maknanya daripada yang telah dikemukakan terdahulu
secara mencangkup pula beberapa hal yang tidak merupakan sikap lahiriah.
Misalnya yang berkaitan dengan sikap batin maupun pikiran.(2)
2. Secara Terminologi, Menurut Ibnu
Taimiyah, akhlak berkaitan erat dengan iman, karena iman terdiri dari beberapa
unsur berikut ini: pertama, berkeyakinan bahwa Allah adalah Sang Pencipta
satu-satunya, Pemberi rezeki dan Penguasa seluruh kerajaan.
(1) Nata, Abudin. Akhlak Tasawuf. (Jakarta: Rajawali Pers, 2012). cet.XI hlm. 147-148
(2) Shihab, M.Quraish. Wawasan Al-Qur’an. (Bandung: Mizan, 1996). cet.III hlm. 261
Kedua,
mengenal Allah dan menyakini bahwa Dia yang patut disembah. Ketiga, Cinta
kepada Allah melebihi segala cinta terhadap semua makhluk-Nya. Keempat, cinta
hamba kepada Tuhannya akan mengantarkannya pada tujuan yang satu, yaitu demi
mencapai ridha Allah SWT.
3. Dalam
beberapa keterangan dijelaskan bahwa Akhlak Islami adalah perangkat tata nilai
yang mewarnai cara berpikir ,bersikap dan bertindak seorang mislim atau
muslimah terhadap dirinya, terhadap Allah, Rosulllah, terhadap sesama, dan
lingkungannya.
B. Sumber-Sumber dari Akhlak Islami
Secara umum akhlak Islami terbagi atas moral yang
berdasarkan kepercayaan kepada Tuhan dan kehidupan Akhirat , maka tentunya
sesuai pula dengan dasar dari agama itu sendiri. Dengan demikian, dasar atau
sumber pokok dari Akhlak Islami adalah Al-Qur’an dan Al-Hadits yang merupakan
sumber utama dari agama Islam itu sendiri.
Dinyatakan dalam hadits
Nabi saw.
Artinya:”Dari Annas bin Malik berkata: Nabi saw.
Bersabda: telah kutinggalkan atas kamu sekalian dua perkara, yang apabila kamu
berpegang kepada keduanya maka tidak akan tersesat, yaitu kitab Allah dan Rosul-Nya.”
Al-Qur’an bukanlah
hasil dari renungan manusia, melainkan Firman Allah SWT. yang Maha pandai dan
Maha bijaksana. Oleh sebab itu, setiap muslim berkeyakinan bahwa isi al-Qur’an
tidak dapat dibuat dan ditandingi oleh pikiran manusia.
Sebagai pedoman kedua
sesudah al-Qur’an adalah Hadis Rasulullah saw yang meliputi perkataan dan
tingkah laku beliau. Hadis juga dipandang sebagai lampiran penjelasan dari
al-Qur’an terutama dalam masalah-masalah yang tersurat pokok-pokoknya saja.
Jika telah jelas bahwa al-Qur’an dan hadis Rasul adalah pedoman hidup yang
menjadi asas bagi setiap muslim, maka teranglah keduanya merupakan sumber
akhlak dalam Islam.
Konsep dasar akhlak Islami menurut
ajaran Islam adalah sebagai berikut:
1. Tujuan
hidup setiap muslim ialah mengharamkan makanan dan minuman yang dilarang agama,
tunduk taat menjalankan syariat Allah untuk mencapai keridhaan-Nya.
2. Berkeyakinan
terhadap kebenaran wahyu Allah dan sunnah, membawa konsekuensi logis sebagai
standar dan pedoman utama bagi setiap muslim.
3. Berkeyakinan
terhadap hari pembalasan, mendorong manusia berbuat baik dan berusaha menjadi
manusia sebaik-baiknya.
4. Berbuat
baik, mencegah segala kemungkaran yang bertentangan dengan ajaran Islam
berasaskan al-Qur’an dan hadis.
5. Ajaran
akhlak di dalam Islam meliputi segala kehidupan manusia berasaskan pada
kebaikan dan bebas dari segala kejahatan.
C. Ciri-Ciri Akhlak Islami
Adapun
ciri-ciri akhlak islami, yaitu:
1. Kebijakan
yang mutlak
Islam menjamin
kebajikan mutlak. Karena islam telah menciptakan akhlak yang luhur. Ia menjamin
kebaikan yang murni baik untuk peorangn atau masyarakat pada setiap keadaan,
dan waktu bagaimanapun. Sebaliknya ahklak (etika) yang di ciptakan
manusia,tidak dapat menjamin kebajikan dan hanya mementingkan diri sendiri.
2. Kebaikan
yang menyeluruh
Akhlak Islami menjamin
kebaikan untuk seluruh umat manusia. Baik segala jaman,semua tempat,mudah tidak
mengandung kesulitan dan tidak mengandung perintah berat yang tidak di kerjakan
oleh umat manusia di luar kemampuannya. Islam menciptakan Akhlak yang mulia,
sehingga dapat di rasakan sesuai dengan jiwa manusia dan dapat di terima akal
yang sehat.
3. Kemantapan
Akhlak Islamiyah
menjamin kebaikan yang mutlak dan sesuai pada diri manusia. Ia bersipat tetap
langgerng dan mantap, sebab yang menciptakan tuhan yang bijaksana, yang selalu
memeliharanya dengan kebaikan yang mutlak. Akan tetapi akhlak atau etika
ciptaan manusia bersifat berubah-ubah dan tidak selalu sama sesuai dengan
kepentingan masyarakat dalam satu zaman atau satu bangsa. Sebagai contoh aliran
materialism,hati nurani dan lain sebagainya.
4. Kewajiban
yang di patuhi
Akhlak yang bersumber
dari agama Islam wajib di taati manusia.sebab ia mempunyai daya kekuatan yang
tinggi menguasai lahir batin dan keadaan suka dan duka,juga tunduh pada
kekuasaan rohani yang dapat mendorong untuk tetap berpegang kepadanya. Juga
sebagi perangsang untuk berbuat kebaikan yang di iringi dengan pahala dan
mencegah perbuatan jahat, kerena takut akan siksaan Allah SWT.
5. Pengawasan
yang menyeluruh
Agama Islam dalah pengawas hati nurani
dan akal yang sehat,islam menghargai hati nurani bukan di jadikan tolak ukur
dalam menetapkan beberapa usaha. Firman Allah dalam surah Al-qiyamah 1-2
Artinya:“aku
bersumpah dengan hari kiamat,dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali
(dirinya sendiri)”.(3)
- Ruang Lingkup
Akhlak Islami
Ruang
lingkup akhlak Islami adalah sama dengan ruang lingkup ajaran Islam itu
sendiri, khususnya yang berkaitan dengan pola hubungan. Akhlak Islami mencakup
berbagai aspek, dimulai dari akhlak terhadap Allah, hingga kepada sesama
makhluk (manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan benda yang tak bernyawa). Berbagai
bentuk dan ruang lingkup akhlak Islami yang demikian itu dapat dipaparkan sebagai
berikut:
1.
Akhlak Terhadap Allah
Manusia
sebagai hamba Allah sepantasnyalah mempunyai akhlak yang baik kepada Allah.
Hanya Allah-lah yang patut disembah. Sebagai makhluk ciptaan Allah, manusia
diberikan kesempurnaan dalam penciptaan-Nya dan mmpunyai kelebihan daripada
makhluk ciptaan-Nya yang lain. Diberikan akal untuk berpikir, perasaan, dan
nafsu.
Quraish
Shihab mengatakan bahwa titik tolak akhlak terhadap Allah SWT adalah pengakuan
dan kesadaran bahwa tiada Tuhan selain Allah. Dia memiliki sifat-sifat terpuji,
demikian agung sifat itu jangankan manusia, malaikat pun tidak mampu
menjangkaunya.(4)
Berkenaan
dengan akhlak kepada Allah dilakukan dengan cara memuji-Nya, yakni menjadikan
Tuhan sebagai satu-satunya yang menguasai dirinya. Oleh sebab itu, manusia
sebagai hamba Allah mempunyai cara-cara yang tepat untuk mendekatkan diri
pada-Nya. Caranya adalah sebagai berikut:
a.
Tidak menyekutukan-Nya
b. Bertakwa
kepada-Nya
(3) Mustofa, A. Akhlak Tasawuf. (Bandung: Pustaka Setia, 2010). cet.V hlm. 149-152
(4) Shihab, M.Quraish. Wawasan Al-Qur’an. (Bandung: Mizan, 1996). cet.III hlm. 262
c.
Mencintai-Nya
d.
Ridla dan ikhlas terhadap segala
keputusan-Nya dan bertaubat
e.
Mensyukuri nikmat-Nya
f.
Selalu berdo’a kepada-Nya
g.
Beribadah
h.
Meniru-niru sifat-Nya, dan
i.
Selalu berusaha mencari keridlaan-Nya
2.
Akhlak Terhadap Sesama Manusia
Islam
memerintahkan pemeluknya untuk menunaikan hak-hak pribadinya dan berlaku adil
terhadap dirinya. Islam dalam pemenuhan hak-hak pribadinya tidak boleh
merugikan hak-hak orang lain. Islam mengimbangi hak-hak pribadi, hak-hak orang
lain dan dan hak masyarakat sehingga tidak timbul pertentangan. Semuanya harus
bekerja sama dalam mengembangkan hukum-hukum Allah. Akhlak terhadap sesama
manusia merupaka sikap seseorang terhadap orang lain. Sikap tersebut harus
dikembangkan, sebagai berikut:
a.
Menghormati perasaan orang lain dengan
cara yang baik seperti yang disyariatkan agama, jangan tertawa di depan orang
yang sedang bersedih, jangan mencaci sesama manusia, jangan memfitnah dan
menggunjing, jangan melaknat manusia, dan jangan makan di depan orang yang
sedang berpuasa.
b.
Memberi salam dan menjawab salam dengan
memperlihatkan muka manis, mencintai saudara sesama muslim sebagaimana
mencintai saudaranya sendiri, dan menyenangi kebaikan.
c.
Pandai berterima kasih. Manusia yang
baik adalah pandai berterima kasih atas kebaikan orang lain.
d.
Memenuhi janji. Janji adalah amanah yang
wajib dipenuhi, baik janji untuk bertemu, janji membayar utang, maupun janji
mengembalikan pinjaman.
e.
Tidak boleh mengejek. Mengejek berarti
merendahkan orang lain.apakah saudara dekat atau teman akrab dengan
mmebicarakan kekurangan atau membuka aib, sangat dilarang agama.
f.
Jangan mencari-cari kesalahan.
Orang-orang yang suka mencari-cari kesalahan orang lain adalah orang yang
ber-akhlaqul mazmumah.
g.
Jangan menawar sesuatu yang sedang
ditawar orang lain dalam berbelanja. Dalam perdagangan, apabila antara pedagang
dengan seorang pembeli sedang terjadi tawar-menawar, maka pembeli yang lain
tidak boleh ikut menawarnya, kecuali orang tersebut tidak jadi membeli.
Sebagai
seorang muslim harus menjaga perasaan orang lain, tidak boleh membedakan sikap
terhadap seseorang baik dia berpangkat atau rakyat jelata, saling merahasiakan
rahasia sesama muslim, tidak boleh menggemborkan kesalahan orang lain baik
lisan maupun tulisan, harus saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan
pada Allah SWT. Adapun akhlak terhadap sesama manusia dapat diperincikan
sebagai berikut.
a.
Akhlak sebagai anak
b.
Akhlak kepada ayah, ibu, dan orang tua
c.
Akhlak terhadap saudara
d.
Akhlak terhadap tetangga
3.
Akhlak Terhadap Lingkungan
Yang
dimaksud dengan lingkungan disini adalah segala sesuatu yang disekitar manusia,
baik binatang, tumbuh-tumbuhan, maupun benda-benda tak bernyawa. Pada dasarnya
akhlak yang diajarkan al-Qur-an terhadap lingkungan bersumber dari fungsi
manusia sebagai khalifah. Kekhalifahan menuntut adanya interaksi antara manusia
dengan sesamanya dan manusia terhadap alam.(5)
Adapun
kewajiban manusia untuk berakhlak kepada alam sekitarnya, ini didasarkan kepada
hal-hal sebagai berikut:
a.
Bahwa manusia hidup dan mati berada di
alam, yaitu bumi.
b.
Bahwa alam merupakan salah satu hal
pokok yang dibicarakan oleh al-Qur’an.
c.
Bahwa Allah memerintahkan kepada manusia
untuk menjaga pelestarian alam yang bersifat umum dan yang khusus.
(5)
Nata, Abudin. Akhlak Tasawuf.
(Jakarta: Rajawali Pers, 2012). cet.XI hlm. 152
d.
Bahwa Allah memerintahkan kepada manusia
untuk mengambil manfaat yang sebesar-besarnya dari alam, agar kehidupannya
menjadi makmur.
e.
Manusia berkewajiban mewujudkan
kemakmuran dan kebahagiaan di muka bumi.
Manusia
bertanggung jawab atas kelestarian alam atau kerusakannya, karena sangat
memengaruhi kehidupan manusia. Alam yang masih lestari pasti dapat memberikan
hidup dan kemakmuran bagi manusia di bumi. Tetapi apabila alam sudah rusak maka
kehidupan manusia menjadi sulit, rezeki sempit dan dapat membawa kepada
kesengsaraan. Pelestarian alam ini wajib dilaksanakan oleh semua lapisan
masyarakat, bangsa, dan negara.
Mula-mula
manusia hidup secara berpindah-pindah (nomaden) mencari tempat-tempat yang
menyediakan hidup dan makan. Mereka lalu berpindah-pindah dari suatu tempat ke
tempat lain setelah bahan makanan habis dan tidak didapat. Semakin lama semakin
maju kehidupan manusia, sehingga ada yang bercocok tanam, berdagang, pegawai,
dan berbagai macam profesi. Namun seiring dengan kemajuan kehidupan manusia,
bukan berarti ketergantungan dan kebutuhannya terhadap alam semakin berkurang.
Mereka tetap membutuhkan alam sekitarnya bagi kemakmuran dan kesejahteraan
hidupnya. Untuk itu, manusia harus bisa menjaga keharmonisan hubungannya dengan
alam dan makhluk sekitarnya, yaitu dengan cara berakhlak yang baik kepadanya.
- Akhlak Islami
Kaitannya Dengan Status Pribadi
Dibagian
ini kami akan menjelaskan “Akhlak islami” yang mengatur dan membatasi kedudukan
(status) pribadi sebagai:
1. Hamba
Allah
2. Anak
3. Ayah/ibu
4. Anggota
masyarakat/Jama’ah
5. Da’i/Muballigh
6. Pemimpin
Dengan
demikian “akhlak islami” mengarah kepada status pribadi yang berada pada
kelompok social yang beraneka ragam. Fungsi, peran dan bagaimana semestinya
berperilaku pada posisi(kedudukan) dalam kelompok sosial tersebut, dengan
adanya “akhlak Islami” dapat dihindari (pola hubungan manusia dengan manusia,
dan hubungan manusia dengan kholiqnya) keliruan bertindak.
1.
Pribadi
sebagai Hamba Allah
Kenyataan
di jagad raya (dunia) membuktikan bahwa ada kekuatan yang tidak Nampak. Dia
mengatur dan memelihara alam semesta ini.Juga Dialah yang menjadi sebab adanya
semua ini. Dalam pengaturan alam semesta ini terlihat ketertiban, dan ada suatu
peraturan yang berganti-ganti dan gejala dating dengan keteraturan-Nya.
Semua
kenikmatan tersebut, bukan berarti “ Sang Pencipta mempunyai maksud kepada
manusia supaya membalas dengan sesuatu, itu tidak, tetapi Allah
SWT.memerintahkan manusia agar senantiasa beribadah kepada-Nya.
Hubungan
manusia dengan Allah adalah hubungan makhluk dengan kholiknya. Dalam masalah
ketergantungan , hidup manusia selalu mempunyai ketergantungan kepada yang
lain. Dan tumpuan serta pokok ketergantungan adalah ketergantungan kepada yang
Maha Kuasa, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Bijaksana, Yang Maha Sempurna, ialah
Allah Rabul ‘alamin, Allah Tuhan Maha Esa.
Ketergantungan
manusia kepada Allah ini, difirmankan Allah:
اللهُ
الصَّمَدُ{الإخلاص:2}
Artinya:
“Allah
adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu”.(QS.Al-Ikhlas:2)
Pada
garis besarnya kewajiban manusia kepada Allah menurut hadits Nabi, yang
diriwayatkan dari sahabat Mu’adz bin Jabal bahwa Nabi Saw. Bersabda kepada Mu’
كُنْتُ
رِدْفَ النَّبِى صَلَى اللهُ عليهِ وسلَّمَ عَلَى حِمَارِ يُقَالُ لَهُ عُفَيْرٌ
فَقَالَ : ياَ مُعَاذُ، هَلْ تَدْرِىْ حَقَّ اللهِ عَلَى عِبَادِهِ وَمَا حَقَّ
اْلعِبَادِ عَلَى اللهِ ؟ قُلْتُ : اللهُ ورَسُوْلُهُ اَعْلَمُ قَالَ : فَإِنَّ
اللهِ عَلَى الْعِبَادِ اَنْ يَعْبُدُوْهُ وَلَايُشْركُوا بِهِ شَيْأً وَحَقُّ
العِبَادِ عَلَى اللهِ اَنْ لَايُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكَ بِهِ شَيْأً , قُلْتُ
: يَا رَسُولَ اللهِ ! اَفَلَا اُبَشِّرُ بِهِ النَّاسِ؟ قَالَ : لَا
تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوْا
Artinya:
“Adalah
aku duduk di belakang Nabi di atas sebuah keledai yang dinamai Ufair, maka
bersabda Nabi: Hai Mu’adz apakah engkau mengetahui hak Allah atas hamba-Nya dan
apa hak engkau mengetahui hak hamba terhadap Allah? Menjawab aku, Allah dan
Rasul-Nya yang lebih mengetahui. Bersabda Nabi: maka bahwasanya hak Allah atas
para hamba, ialah : Mereka menyembah-Nya dan tidak memperserikatkan Dia dengan
sesuatu dan hak para hamba terhadap Allah, Tiada Allah mengadzabkan orang yang
tidak memperserikatkan Dia dengan sesuatu. Mka berkata aku, ya Rasullah, apa
tidak lebih baik saya menggembirakan para manusia dengan dia? Bersabda Nabi,
jangan kamu menggembirakan mereka yang menyebabkan mereka akan berpegang kepada
untung saja”.
Jadi
berdasarkan hadits ini kewajiban manusia kepada Allah pada garis besarnya ada 2 (dua):
a.
Mentauhidkan-Nya yakni tidak
memusyrikkan-Nya kepada sesuatupun.
b.
Beribadah kepada-Nya.
2.
Pribadi
sebagai Anak
Betapa berat tangguangan seorang ibu
dikala mengandung dan demikian pula kalau sudah dating waktunya melahirkan.
Dengan mengerahkan seluruh perhatian, jiwa raga dan tenaga si ibu melahirkan
jabang bayinya dengan harap-harap cemas. Berharap agar si bayi yang
dilahirkannya sehat dan sempurna keadaannya sebagai manusia sempurna anggota
badannya, seperti susunan jasmaninya dan tumbuh dalam keadaan yang wajar baik
jasmani maupun rohaninya. Cemas kalau-kalau jabang bayinya tidak normal baik
jasmani dan rohaninya atau ada gangguan-ganguan yang tidak diinginkannya. Di
samping itu derita jasmani si ibu menahan dikala melahirkan jabang bayinya
tersebut.
Setelah
jabang bayinya lahir, betapa kasih saying si ibu kepada anaknya, seakan-akan
segala yang ada pada si ibu adalah untuk anaknya. Jiwa, raga perhatian, kasih
saying semuanya ditumpahkan untuk si jabang bayi itu, agar si bayi selamat
sentosa dalam pertumbuhannya menjadi manusia yang baik. Kata sanjung dan
manjaan, kata timang yang mengandung doa dan harapan meluncur dicurahkan untuk
si bayi, semoga kelak menjadi manusia yang ideal.
Mengapa
demikian besar kasih sayang ibu kepada anaknya. Padahal sewaktu belum
mengandung seakan belum mau mempunyai anak. Atau karena anaknya sudah dua tiga
ingin tidak ada yang keempat. Tetapi karena dikarunia Tuhan anak yang
selanjutnya kasih saying ibu tidak ada bedanya antara kepada yang pertama yang
kedua dan seterusnya.
Dari
mana datangnya cinta kasih saying kepada putranya, padahal tiada pamrih. Lain
dengan cinta seorang kekasih kepada pacarnya, yang kalau kasihnya tiada
terbalas bisa berbalik menjadi benci. Tetapi kasih ibu bagaimanapun tiada akan
berubah dan hilang, walaupun si anak tiada membalas kasih dan cinta ibu.
Memang
itu karena “Hidayah”, anugerah dari pada Allah Yang Maha Pengasih dan
Penyayang. Hidayah itu tersebut insting atau naluri, dalam ilmu agama disebut
“Hidayah-ghariziyyah”.
Beberapa
perkara yang harus di perhatikan dan dilaksanakan oleh seorang anak kepada
Orang tua yakni:
a.
Berbuat Baik kepada Ibu dan Ayah, Walaupun keduanya Lalim
b.
Berkata Halus dan mulia kepada Ibu dan Ayah
c.
Berbuat baik kepada Ibu dan atau Ayah yang sudah meninggal dunia
Bagaimana
berbuat baik seorang anak kepada ayah dan atau ibunya yang sudah tiada. Hal ini
agama islam mengajarkan supaya seorang anak:
a.
Mendoakan ayah ibu yang telah tiada itu
dan memintakan ampun kepada Allah dari segala dosa orang tua kita. Doa yang
sering di amalkan yakni:
اللَّهُمَّ
اغْفِرْلىِ وَلِوَالِدَىَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِى صَغِيْرًا
b. Menepati janji kedua ibu bapak, Kalau sewaktu
hidup orang tua mempunyai janji kepada seseorang, maka anaknya harus berusaha
menunaikan menepati janji tersebut. Umpamanya beliau akan naik haji, yang belum
sampai melaksanakannya.
c.
Memuliakan teman-teman kedua orang tua. Di waktu hidupnya ibu dan ayah,
beliau-beliau mempunyai teman-teman akrab, yang segulung-segalang orang tua
kita dengan temannya.
d. Bersilaturrahmi
kepada orang-orang yang mempunyai hubungan dengan kedua orang tua.
3.
Akhlak Ayah
dan Ibu
Ketika
nabi Ibrahim masih kecil, berdialog kepada ayahnya tentang Tuhan. Dan
kesimpulannya bahwa Tuhan telah member petunjuk kepada manusia bahwa
memperTuhan benda adalah sangat keliru.
Dengan
demikian, dunia anak sangat penting diperhatikan. Apabila keliru dalam mendidik
akhlak anak, bisa jadi dunia anak akan tidak mengenal akhlak, yang lebih lanjut
anak akan melakukan perbuatan yang abnormal kriminalitas dan lain sebagainya.
Contoh dalam pendidikan akhlak, apabila anaka-anak sekolah berdusta di dalam
segala apa yang mereka bicarakan, didukung para gurunya berdusta juga di dalam
mengajar dan segala pembicaraannya, maka masyarakat (anak-anak) tidak dapat
berujud. Dan apabila dunia anak terancam demikian, masyarakat yang akan dating
tidak dapat berwujud karena adanya tiap-tiap yang dibicarakan menjurus dusta.
Dan yang membekas dan berwujud pada masyarakat yang merusak dan rendah
martabatnya.
Maka
model mendidik akhlak anak, tidak langsung berkata itu baik, atau itu buruk,
apabila seorang anak baru saja belajar membaca, menurut kita itu jelek/buruk
namun kita tidak seharusnya berkata demikian. Sebab dapat menyakiti hati dan
patah semangat. Tetapi kita beri semangat dan dorongan yang dapat memacu dan
bergiatnya si anak.
4.
Akhlak kepada
Anggota Masyarakat/ Jama’ah
Pokok
utama kerasulan nabi Muhammad Saw adalah menyempurnakan akhlak yang mulia.
Mencakup semua bentuk sikap dan perbuatan yang terpuji dikalangan orang-orang
(masyarakat) yang bertaqwa. Di samping terpuji berdasarkan norma-norma yang
ditetapkan Allah SWT.
Akhlak
mulia merupakan akhlak yang berlaku dan berlangsung di atas jalur Al-Qur’an dan
perbuatan nabi Muhammad Saw. Dalam sikap dan perbuatan. Dengan demikian setiap
muslim diwajibkan untuk memlihara norma-norma (agama) di masyarakat terutama di
dalam pergaulan sehari-hari baik keluarga rumah tangga, kerabat, tetangga dan
lingkungan kemasyarakatan.
Tolong-menolong
untuk kebaikan dan takwa kepada Allah adalah perintah Allah, yang dapat ditarik
hokum wajib kepada setiap kaum muslimin dengan cara yang sesuai dengan keadaan
objek orang bersangkutan, Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Maidah, ayat
2:
وَتَعَاوَنُوا
عَلَى البِرِّى وَالتَّقوَى وَلَاتَعَاوَنُوْا عَلَى الِاثْمِ وَالعُدْوَانِ
{المائدة:2}
Artinya:
… dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebaikan dan taqwa, dan
janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran/permusuhan”.
Dalam
pergaulan yang sesuai dengan norma-norma agama, ada beberapa yang harus di
perhatikan yakni bagaimana cara berbahasa, cara salam, cara makan dan minum,
cara di majles pertemuan, cara minta ijin masuk, cara member ucapan selamat,
cara berkelakar atau becanda, cara menjenguk orang sakit, dan cara ta’ziah.
5.
Akhlak Da’I/
Mubaligh
Telah
jelas ujian bagi penyebar agama islam yang paling hebat adalah para nabi.
Kemudian orang-orang saleh, para Da’i/ mubaligh yang menyeri atau mengangguk
manusia untuk mentauhidkan Allah dan ikhlas dalam beribadah.
Dalam
mempersiapkan diri yang telah mengikrarkan untuk berjalan mengikuti manhaj para
nabi dalam dakwah, maka para nabi harus membekali diri dengan akhlakul karimah.
Sebab Da’i/mubaligh di masyarakat menjadi suri tauladan secara langsung. Baik
perilaku, sikap perbuatan maupun perkataannya.
Jalan
yang harus ditempuh selanjutnya, da’I harus berusaha terus membersihkan jiwa.
Segala apa yang mengganjal, menutup dan tersembunyi di hati nurani, Da’I harus
berusaha juga menerangi segala rahasia dirinya. Dan senantiasa mohon petunujuk
dan pertolongan dari Allah. Dengan demikian dirinya menjadi baik atas kuasa
Allah SWT.
Para
Da’i memiliki ilham yang merupakan martabat yang tinggi dalam dirinya yang selalu
menghubungkan dengan Allah. Di dalam hati Da’I ada bisikan-bisikan yang benar
yang berada pada lisannya karena tergisik dari hati yang bersih.
6.
Akhlak
Pemimpin
Tugas pemimpin tidak ringan. Tanggung jawab yang ia pikul senantiasa bernafaskan
amanat. Baik amanat dari masyarakat/ warga atau Negara. Bahkan agama. Agama
islam sangat memperhatikan masalah kepemimpinan. Menurut Islam. Semua pemimpin
akan dimintai pertanggung jawabnya. Pemimpin keluarga bertanggung jawab atas
kebahagiaan, kesejahteraan keluarganya, pemimpin Negara/bangasa akan dimintai
pertanggung jawabnya oleh masyarakat dan lain sebagainya.
Sebagai contoh seorang pemimpin sejati adalah Rasulullah Saw. dan para
sahabatnya seperti Abu bakar sebagai orang yang berwibawa dan tenang. Oerangnya
penuh ramah tamah, cinta sesama dan selalu membenarkan dan menepati pada rasul
yang agung. Umar bin khotob sebagai pemimpin yang mempunyai pendapat yang
berbobot. Dia adalah orang yang terpercaya terhadap rahasia-rahasianya. Utsman
sebagai pengumpul firman Kitab Allah. Dia adalah seorang pemimpin yang
meluruskan akida. Sedangkan Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin yang pandai
menyusun pasukan perang untuk mengalahkan orang-orang jahat. Dan Ali adalah
seorang pemimpin yang mampu sebagai pewaris ilmu rasullah dan pemelihara
janjinya.
Demikianlah akhlak pemimpin yang dicontohkan kepada kita untuk menjadi pemimpin
sejati. Akhlak pemimpin baik, sebab sifat, perilaku dan sikapnya dapat
membahagiakan orang lain (umat manusia) dan menampakkan karismatiknya pada yang
dipimpin, jadi dapat dikemukakan di sini, bahwa pemimpin berakhlak baik apabila
memiliki kepribadian yang sesuai dengan tata aturan (ketentuan) agama,
masyarakat, keluarga dan Negara/bangsa.(6)
(6)
Mustofa,
A. Akhlak Tasawuf. (Bandung: Pustaka
Setia, 2010). cet.V hlm. 153-196
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Secara sederhana Ahklak
Islami dapat diartikan sebagai yang berdasar aliran islam atau Ahklak yang
bersifat Islami.kata Islam yang berada di belakang kata Akhlak dalam hal menepati posisi sebagai sifat.
Dengan
demikian Ahklak Islami adalah perbuatan yang dilakukan dengan mudah,di
sengaja,mendarah daging dan sebenarnya yang di dasarkan pada ajaran islam. Di
lihat dari segi sifat yang Universal, maka Ahklak Islami bersifat Universal.
Namun dalam rangka menjabarkan Akhlak Islam yang Universal ini di perlukan
bantuan pemikiran akal manusia dan kesempatan social yang terkandung dalam
ajaran etika dan moral. Adapun sumber akhlak islami adalah dari Al-Qur’an dan
Al-Hadits, sedangakn ciri-ciri dari akhlak islami meliputi Kebajikan yang
mutlak, Kebaikan yang menyeluruh, Kemantapan, Kewajiban yang dipatuhi, dan
Pengawasan yang menyeluruh.
Sementara
itu, ruang lingkup pembahasan akhlak islami terpusat kepada Akhlak pada Allah
SWT, Sesama Manusia, dan lingkungan. Adapun keterkaitan akhlak islami dengan
status pribadi, meliputi sebagai Hamba Allah, Anak, Ayah/Ibu, Anggota
Masyarakat/Jama’ah, Da’i/Mubaligh, dan Pemimpin.
B.
Saran
Makalah
yang kami susun ini berusaha memaparkan materi tentang Akhlak
Islami secara terperinci. Oleh karena
itu, kami mengajak teman-teman pecinta ilmu agama islam untuk membaca dan
memahami penjelasan yang dijabarkan di dalam makalah ini tentang Akhlak
Islami dengan harapan dapat menambah
khazanah pengetahuan tentang agama islam dalam ruang lingkup pembahasan Akhlak Islami yang didalamnya
berisi tuntunan untuk kita menjalani bahtera kehidupan dunia yang fana ini
serta penuh dengan tipu daya setan yang ingin menjerumuskan kita kedalam api
neraka yang tanpa henti terus menyala.
DAFTAR
PUSTAKA
1. Al-Lu’la
uwal Marjan I:8
2. Mustofa,
A. 2010. Akhlak Tasawuf. Bandung:
Pustaka Setia
3. Nata,
Abudin. 2012. Akhlak Tasawuf. Jakarta:
Rajawali Pers
4. Shihab,
M.Quraish. 1996. Wawasan Al-Qur’an. Bandung:
Mizan
(1)
Nata, Abudin. Akhlak Tasawuf. (Jakarta: Rajawali Pers, 2012). cet.XI hlm. 147-148
(2) Shihab,
M.Quraish. Wawasan Al-Qur’an.
(Bandung: Mizan, 1996). cet.III hlm. 261
(3)
Mustofa, A. Akhlak Tasawuf. (Bandung:
Pustaka Setia, 2010). cet.V hlm. 149-152
(4)
Shihab, M.Quraish. Wawasan Al-Qur’an.
(Bandung: Mizan, 1996). cet.III hlm. 262
(5)
Nata, Abudin. Akhlak Tasawuf. (Jakarta: Rajawali Pers, 2012). cet.XI hlm. 152
(6)
Mustofa, A. Akhlak Tasawuf. (Bandung:
Pustaka Setia, 2010). cet.V hlm. 153-196
Tidak ada komentar:
Posting Komentar