Senin, 09 Maret 2015

akhlaq islami

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Persoalan “Akhlak” di dalam Islam banyak dibicarakan dan dimuat pada Al-Quran dan Al-Hadits. Sumber tersebut merupakan batasan-batasan dalam tindakan sehari-hari bagi manusia. Ada yang menjelaskan arti baik dan buruk. Memberi informasi kepada umat, apa yang semestinya harus diperbuat dan bagaimana harus bertindak, serta hal apa saja yang tidak boleh dilakukan.
Kita semua telah mengetahui bahwasannya Akhlak Islami itu sangat penting untuk kita. Karena dengan akhlak, kita akan bisa menjalani kehidupan ini dengan penuh manfaat dengan mengharapkan ridla dari Allah SWT. Tetapi, jika sebaliknya apabila kita tidak mempunyai akhlak yang baik. Maka hidup kita akan tidak tenang dan terus gelisah. Dalam makalah ini, kami berusaha memaparkan tentang akhlak islami yang meliputi dari pengertiannya, bagaimana kita harus menjalani kehidupan ini sesuai dengan status pribadi kita, dan yang lainnya.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengerian dari Akhlak Islami?
2.      Dari manakah sumber akhlak islami?
3.      Apa ciri-ciri dari akhlak Islami?
4.      Apa saja ruang lingkup pembahasan dari  akhlak Islami?
5.      Apa saja kaitannya antara Akhlak Islami dengan status pribadi?
C.     Tujuan
1.      Menjelaskan pengertian dari Akhlak Islami.
2.      Menguraikan Sumber-sumber dari akhlak islami.
3.      Memaparkan ciri-ciri dari Akhlak Islami.
4.      Mengetahui Ruang lingkup pembahasan dari Akhlak Islami.
5.      Memahami kaitannya antara Akhlak Islami dengan status pribadi.













BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Akhlak Islami
Secara sederhana Ahklak Islami dapat diartikan sebagai yang berdasar aliran islam atau Ahklak yang bersifat Islami.kata Islam yang berada di belakang kata Akhlak dalam  hal menepati posisi sebagai sifat.
Dengan demikian Ahklak Islami adalah perbuatan yang dilakukan dengan mudah,di sengaja,mendarah daging dan sebenarnya yang di dasarkan pada ajaran islam. Di lihat dari segi sifat yang Universal, maka Ahklak Islami bersifat Universal. Namun dalam rangka menjabarkan Akhlak Islam yang Universal ini di perlukan bantuan pemikiran akal manusia dan kesempatan social yang terkandung dalam ajaran etika dan moral.
Dengan kata lain Ahklak Islami adalah akhlak yang di samping mengakui adanya nilai-nilai Universal sebagai dasar bentuk Akhlak,juga mengakui nilai-nilai yang bersifat local dan temporal sebagai penjabaran atas nilai-nilai yang Universal itu.menghormati kedua orang tua misalnya adalah Akhlak yang bersifat mutlak dan Universal. Sedangkan bagaimana bentuk dan cara menghormati kedua orang tua itu dapat manifestasikan oleh hasil pemikiran manusia yang di pengaruhi oleh kondisi dan situasi dimana orang yang menjabarkan nilai Universal itu berada. Bagi orang jawa misalnya menghormati kedua orang tua dengan cara sungkem sambil menggelesor di lantai.bagi orang sunda menghormati orang tua dengan cara mencium tangannya. Dan bagi orang Sumatra,menghormati kedua orang tua dengan cara memeliharanya idup bersama dengan anaknya. Selanjutnya bagi orang barat berbuat baik kepada orang tua mungkin di lakukan dengan memberikan berbagai fasilitas hidup dan sebagainya.(1)
Adapun  beberapa pendapat menurut para ahli yang mendefinisikan pengertian tentang Ahklak Islami,di antaranya:
1.      Akhlak (Islami) menurut Quraish Shihab lebih luas maknanya daripada yang telah dikemukakan  terdahulu secara mencangkup pula beberapa hal yang tidak merupakan sikap lahiriah. Misalnya yang berkaitan dengan sikap batin maupun pikiran.(2)
2.      Secara Terminologi, Menurut Ibnu Taimiyah, akhlak berkaitan erat dengan iman, karena iman terdiri dari beberapa unsur berikut ini: pertama, berkeyakinan bahwa Allah adalah Sang Pencipta satu-satunya, Pemberi rezeki dan Penguasa seluruh  kerajaan.


(1)   Nata, Abudin. Akhlak Tasawuf. (Jakarta: Rajawali Pers, 2012). cet.XI hlm. 147-148
(2)   Shihab, M.Quraish. Wawasan Al-Qur’an. (Bandung: Mizan, 1996). cet.III hlm. 261
Kedua, mengenal Allah dan menyakini bahwa Dia yang patut disembah. Ketiga, Cinta kepada Allah melebihi segala cinta terhadap semua makhluk-Nya. Keempat, cinta hamba kepada Tuhannya akan mengantarkannya pada tujuan yang satu, yaitu demi mencapai ridha Allah SWT.
3.      Dalam beberapa keterangan dijelaskan bahwa Akhlak Islami adalah perangkat tata nilai yang mewarnai cara berpikir ,bersikap dan bertindak seorang mislim atau muslimah terhadap dirinya, terhadap Allah, Rosulllah, terhadap sesama, dan lingkungannya.
B.     Sumber-Sumber dari Akhlak Islami
Secara umum  akhlak Islami terbagi atas moral yang berdasarkan kepercayaan kepada Tuhan dan kehidupan Akhirat , maka tentunya sesuai pula dengan dasar dari agama itu sendiri. Dengan demikian, dasar atau sumber pokok dari Akhlak Islami adalah Al-Qur’an dan Al-Hadits yang merupakan sumber utama dari agama Islam itu sendiri.
Dinyatakan dalam hadits Nabi saw.





Artinya:”Dari Annas bin Malik berkata: Nabi saw. Bersabda: telah kutinggalkan atas kamu sekalian dua perkara, yang apabila kamu berpegang kepada keduanya maka tidak akan tersesat, yaitu kitab Allah dan Rosul-Nya.”
Al-Qur’an bukanlah hasil dari renungan manusia, melainkan Firman Allah SWT. yang Maha pandai dan Maha bijaksana. Oleh sebab itu, setiap muslim berkeyakinan bahwa isi al-Qur’an tidak dapat dibuat dan ditandingi oleh pikiran manusia.
Sebagai pedoman kedua sesudah al-Qur’an adalah Hadis Rasulullah saw yang meliputi perkataan dan tingkah laku beliau. Hadis juga dipandang sebagai lampiran penjelasan dari al-Qur’an terutama dalam masalah-masalah yang tersurat pokok-pokoknya saja. Jika telah jelas bahwa al-Qur’an dan hadis Rasul adalah pedoman hidup yang menjadi asas bagi setiap muslim, maka teranglah keduanya merupakan sumber akhlak dalam Islam.
Konsep dasar akhlak Islami menurut ajaran Islam adalah sebagai berikut:
1.      Tujuan hidup setiap muslim ialah mengharamkan makanan dan minuman yang dilarang agama, tunduk taat menjalankan syariat Allah untuk mencapai keridhaan-Nya.
2.      Berkeyakinan terhadap kebenaran wahyu Allah dan sunnah, membawa konsekuensi logis sebagai standar dan pedoman utama bagi setiap muslim.
3.      Berkeyakinan terhadap hari pembalasan, mendorong manusia berbuat baik dan berusaha menjadi manusia sebaik-baiknya.
4.      Berbuat baik, mencegah segala kemungkaran yang bertentangan dengan ajaran Islam berasaskan al-Qur’an dan hadis.
5.      Ajaran akhlak di dalam Islam meliputi segala kehidupan manusia berasaskan pada kebaikan dan bebas dari segala kejahatan.

C.    Ciri-Ciri Akhlak Islami

Adapun ciri-ciri akhlak islami, yaitu:

1.      Kebijakan yang mutlak
Islam menjamin kebajikan mutlak. Karena islam telah menciptakan akhlak yang luhur. Ia menjamin kebaikan yang murni baik untuk peorangn atau masyarakat pada setiap keadaan, dan waktu bagaimanapun. Sebaliknya ahklak (etika) yang di ciptakan manusia,tidak dapat menjamin kebajikan dan hanya mementingkan diri sendiri.

2.      Kebaikan yang menyeluruh
Akhlak Islami menjamin kebaikan untuk seluruh umat manusia. Baik segala jaman,semua tempat,mudah tidak mengandung kesulitan dan tidak mengandung perintah berat yang tidak di kerjakan oleh umat manusia di luar kemampuannya. Islam menciptakan Akhlak yang mulia, sehingga dapat di rasakan sesuai dengan jiwa manusia dan dapat di terima akal yang sehat.

3.      Kemantapan
Akhlak Islamiyah menjamin kebaikan yang mutlak dan sesuai pada diri manusia. Ia bersipat tetap langgerng dan mantap, sebab yang menciptakan tuhan yang bijaksana, yang selalu memeliharanya dengan kebaikan yang mutlak. Akan tetapi akhlak atau etika ciptaan manusia bersifat berubah-ubah dan tidak selalu sama sesuai dengan kepentingan masyarakat dalam satu zaman atau satu bangsa. Sebagai contoh aliran materialism,hati nurani dan lain sebagainya.

4.      Kewajiban yang di patuhi
Akhlak yang bersumber dari agama Islam wajib di taati manusia.sebab ia mempunyai daya kekuatan yang tinggi menguasai lahir batin dan keadaan suka dan duka,juga tunduh pada kekuasaan rohani yang dapat mendorong untuk tetap berpegang kepadanya. Juga sebagi perangsang untuk berbuat kebaikan yang di iringi dengan pahala dan mencegah perbuatan jahat, kerena takut akan siksaan Allah SWT.




5.      Pengawasan yang menyeluruh
Agama Islam dalah pengawas hati nurani dan akal yang sehat,islam menghargai hati nurani bukan di jadikan tolak ukur dalam menetapkan beberapa usaha. Firman Allah dalam surah Al-qiyamah 1-2




Artinya:“aku bersumpah dengan hari kiamat,dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri)”.(3)
  1. Ruang Lingkup Akhlak Islami
Ruang lingkup akhlak Islami adalah sama dengan ruang lingkup ajaran Islam itu sendiri, khususnya yang berkaitan dengan pola hubungan. Akhlak Islami mencakup berbagai aspek, dimulai dari akhlak terhadap Allah, hingga kepada sesama makhluk (manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan benda yang tak bernyawa). Berbagai bentuk dan ruang lingkup akhlak Islami yang demikian itu dapat dipaparkan sebagai berikut:
1.      Akhlak Terhadap Allah
Manusia sebagai hamba Allah sepantasnyalah mempunyai akhlak yang baik kepada Allah. Hanya Allah-lah yang patut disembah. Sebagai makhluk ciptaan Allah, manusia diberikan kesempurnaan dalam penciptaan-Nya dan mmpunyai kelebihan daripada makhluk ciptaan-Nya yang lain. Diberikan akal untuk berpikir, perasaan, dan nafsu.
Quraish Shihab mengatakan bahwa titik tolak akhlak terhadap Allah SWT adalah pengakuan dan kesadaran bahwa tiada Tuhan selain Allah. Dia memiliki sifat-sifat terpuji, demikian agung sifat itu jangankan manusia, malaikat pun tidak mampu menjangkaunya.(4)
Berkenaan dengan akhlak kepada Allah dilakukan dengan cara memuji-Nya, yakni menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya yang menguasai dirinya. Oleh sebab itu, manusia sebagai hamba Allah mempunyai cara-cara yang tepat untuk mendekatkan diri pada-Nya. Caranya adalah sebagai berikut:
a.       Tidak menyekutukan-Nya
b.      Bertakwa kepada-Nya
  (3) Mustofa, A. Akhlak Tasawuf. (Bandung: Pustaka Setia, 2010). cet.V hlm. 149-152
  (4) Shihab, M.Quraish. Wawasan Al-Qur’an. (Bandung: Mizan, 1996). cet.III hlm. 262
c.       Mencintai-Nya
d.      Ridla dan ikhlas terhadap segala keputusan-Nya dan bertaubat
e.       Mensyukuri nikmat-Nya
f.       Selalu berdo’a kepada-Nya
g.      Beribadah
h.      Meniru-niru sifat-Nya, dan
i.        Selalu berusaha mencari keridlaan-Nya

2.      Akhlak Terhadap Sesama Manusia
Islam memerintahkan pemeluknya untuk menunaikan hak-hak pribadinya dan berlaku adil terhadap dirinya. Islam dalam pemenuhan hak-hak pribadinya tidak boleh merugikan hak-hak orang lain. Islam mengimbangi hak-hak pribadi, hak-hak orang lain dan dan hak masyarakat sehingga tidak timbul pertentangan. Semuanya harus bekerja sama dalam mengembangkan hukum-hukum Allah. Akhlak terhadap sesama manusia merupaka sikap seseorang terhadap orang lain. Sikap tersebut harus dikembangkan, sebagai berikut:
a.       Menghormati perasaan orang lain dengan cara yang baik seperti yang disyariatkan agama, jangan tertawa di depan orang yang sedang bersedih, jangan mencaci sesama manusia, jangan memfitnah dan menggunjing, jangan melaknat manusia, dan jangan makan di depan orang yang sedang berpuasa.
b.      Memberi salam dan menjawab salam dengan memperlihatkan muka manis, mencintai saudara sesama muslim sebagaimana mencintai saudaranya sendiri, dan menyenangi kebaikan.
c.       Pandai berterima kasih. Manusia yang baik adalah pandai berterima kasih atas kebaikan orang lain.
d.      Memenuhi janji. Janji adalah amanah yang wajib dipenuhi, baik janji untuk bertemu, janji membayar utang, maupun janji mengembalikan pinjaman.
e.       Tidak boleh mengejek. Mengejek berarti merendahkan orang lain.apakah saudara dekat atau teman akrab dengan mmebicarakan kekurangan atau membuka aib, sangat dilarang agama.
f.       Jangan mencari-cari kesalahan. Orang-orang yang suka mencari-cari kesalahan orang lain adalah orang yang ber-akhlaqul mazmumah.
g.      Jangan menawar sesuatu yang sedang ditawar orang lain dalam berbelanja. Dalam perdagangan, apabila antara pedagang dengan seorang pembeli sedang terjadi tawar-menawar, maka pembeli yang lain tidak boleh ikut menawarnya, kecuali orang tersebut tidak jadi membeli.
Sebagai seorang muslim harus menjaga perasaan orang lain, tidak boleh membedakan sikap terhadap seseorang baik dia berpangkat atau rakyat jelata, saling merahasiakan rahasia sesama muslim, tidak boleh menggemborkan kesalahan orang lain baik lisan maupun tulisan, harus saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan pada Allah SWT. Adapun akhlak terhadap sesama manusia dapat diperincikan sebagai berikut.
a.       Akhlak sebagai anak
b.      Akhlak kepada ayah, ibu, dan orang tua
c.       Akhlak terhadap saudara
d.      Akhlak terhadap tetangga
3.      Akhlak Terhadap Lingkungan
Yang dimaksud dengan lingkungan disini adalah segala sesuatu yang disekitar manusia, baik binatang, tumbuh-tumbuhan, maupun benda-benda tak bernyawa. Pada dasarnya akhlak yang diajarkan al-Qur-an terhadap lingkungan bersumber dari fungsi manusia sebagai khalifah. Kekhalifahan menuntut adanya interaksi antara manusia dengan sesamanya dan manusia terhadap alam.(5)
Adapun kewajiban manusia untuk berakhlak kepada alam sekitarnya, ini didasarkan kepada hal-hal sebagai berikut:
a.       Bahwa manusia hidup dan mati berada di alam, yaitu bumi.
b.      Bahwa alam merupakan salah satu hal pokok yang dibicarakan oleh al-Qur’an.
c.       Bahwa Allah memerintahkan kepada manusia untuk menjaga pelestarian alam yang bersifat umum dan yang khusus.

(5) Nata, Abudin. Akhlak Tasawuf. (Jakarta: Rajawali Pers, 2012). cet.XI hlm. 152
d.      Bahwa Allah memerintahkan kepada manusia untuk mengambil manfaat yang sebesar-besarnya dari alam, agar kehidupannya menjadi makmur.
e.       Manusia berkewajiban mewujudkan kemakmuran dan kebahagiaan di muka bumi.
Manusia bertanggung jawab atas kelestarian alam atau kerusakannya, karena sangat memengaruhi kehidupan manusia. Alam yang masih lestari pasti dapat memberikan hidup dan kemakmuran bagi manusia di bumi. Tetapi apabila alam sudah rusak maka kehidupan manusia menjadi sulit, rezeki sempit dan dapat membawa kepada kesengsaraan. Pelestarian alam ini wajib dilaksanakan oleh semua lapisan masyarakat, bangsa, dan negara.
Mula-mula manusia hidup secara berpindah-pindah (nomaden) mencari tempat-tempat yang menyediakan hidup dan makan. Mereka lalu berpindah-pindah dari suatu tempat ke tempat lain setelah bahan makanan habis dan tidak didapat. Semakin lama semakin maju kehidupan manusia, sehingga ada yang bercocok tanam, berdagang, pegawai, dan berbagai macam profesi. Namun seiring dengan kemajuan kehidupan manusia, bukan berarti ketergantungan dan kebutuhannya terhadap alam semakin berkurang. Mereka tetap membutuhkan alam sekitarnya bagi kemakmuran dan kesejahteraan hidupnya. Untuk itu, manusia harus bisa menjaga keharmonisan hubungannya dengan alam dan makhluk sekitarnya, yaitu dengan cara berakhlak yang baik kepadanya.
  1. Akhlak Islami Kaitannya Dengan Status Pribadi
Dibagian ini kami akan menjelaskan “Akhlak islami” yang mengatur dan membatasi kedudukan (status) pribadi sebagai:
1.      Hamba Allah
2.      Anak
3.      Ayah/ibu
4.      Anggota masyarakat/Jama’ah
5.      Da’i/Muballigh
6.      Pemimpin
Dengan demikian “akhlak islami” mengarah kepada status pribadi yang berada pada kelompok social yang beraneka ragam. Fungsi, peran dan bagaimana semestinya berperilaku pada posisi(kedudukan) dalam kelompok sosial tersebut, dengan adanya “akhlak Islami” dapat dihindari (pola hubungan manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan kholiqnya) keliruan bertindak.
1.      Pribadi sebagai Hamba Allah
Kenyataan di jagad raya (dunia) membuktikan bahwa ada kekuatan yang tidak Nampak. Dia mengatur dan memelihara alam semesta ini.Juga Dialah yang menjadi sebab adanya semua ini. Dalam pengaturan alam semesta ini terlihat ketertiban, dan ada suatu peraturan yang berganti-ganti dan gejala dating dengan keteraturan-Nya.
Semua kenikmatan tersebut, bukan berarti “ Sang Pencipta mempunyai maksud kepada manusia supaya membalas dengan sesuatu, itu tidak, tetapi Allah SWT.memerintahkan manusia agar senantiasa beribadah kepada-Nya.
Hubungan manusia dengan Allah adalah hubungan makhluk dengan kholiknya. Dalam masalah ketergantungan , hidup manusia selalu mempunyai ketergantungan kepada yang lain. Dan tumpuan serta pokok ketergantungan adalah ketergantungan kepada yang Maha Kuasa, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Bijaksana, Yang Maha Sempurna, ialah Allah Rabul ‘alamin, Allah Tuhan Maha Esa.
Ketergantungan manusia kepada Allah ini, difirmankan Allah:
اللهُ الصَّمَدُ{الإخلاص:2}
Artinya:
“Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu”.(QS.Al-Ikhlas:2)
Pada garis besarnya kewajiban manusia kepada Allah menurut hadits Nabi, yang diriwayatkan dari sahabat Mu’adz bin Jabal bahwa Nabi Saw. Bersabda kepada Mu’
كُنْتُ رِدْفَ النَّبِى صَلَى اللهُ عليهِ وسلَّمَ عَلَى حِمَارِ يُقَالُ لَهُ عُفَيْرٌ فَقَالَ : ياَ مُعَاذُ، هَلْ تَدْرِىْ حَقَّ اللهِ عَلَى عِبَادِهِ وَمَا حَقَّ اْلعِبَادِ عَلَى اللهِ ؟ قُلْتُ : اللهُ ورَسُوْلُهُ اَعْلَمُ قَالَ : فَإِنَّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ اَنْ يَعْبُدُوْهُ وَلَايُشْركُوا بِهِ شَيْأً وَحَقُّ العِبَادِ عَلَى اللهِ اَنْ لَايُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكَ بِهِ شَيْأً , قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللهِ ! اَفَلَا اُبَشِّرُ بِهِ النَّاسِ؟ قَالَ : لَا تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوْا
Artinya:
“Adalah aku duduk di belakang Nabi di atas sebuah keledai yang dinamai Ufair, maka bersabda Nabi: Hai Mu’adz apakah engkau mengetahui hak Allah atas hamba-Nya dan apa hak engkau mengetahui hak hamba terhadap Allah? Menjawab aku, Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui. Bersabda Nabi: maka bahwasanya hak Allah atas para hamba, ialah : Mereka menyembah-Nya dan tidak memperserikatkan Dia dengan sesuatu dan hak para hamba terhadap Allah, Tiada Allah mengadzabkan orang yang tidak memperserikatkan Dia dengan sesuatu. Mka berkata aku, ya Rasullah, apa tidak lebih baik saya menggembirakan para manusia dengan dia? Bersabda Nabi, jangan kamu menggembirakan mereka yang menyebabkan mereka akan berpegang kepada untung saja”.
Jadi berdasarkan hadits ini kewajiban manusia kepada Allah pada garis besarnya ada 2      (dua):
a.       Mentauhidkan-Nya yakni tidak memusyrikkan-Nya kepada sesuatupun.
b.      Beribadah kepada-Nya.
2.      Pribadi sebagai Anak
            Betapa berat tangguangan seorang ibu dikala mengandung dan demikian pula kalau sudah dating waktunya melahirkan. Dengan mengerahkan seluruh perhatian, jiwa raga dan tenaga si ibu melahirkan jabang bayinya dengan harap-harap cemas. Berharap agar si bayi yang dilahirkannya sehat dan sempurna keadaannya sebagai manusia sempurna anggota badannya, seperti susunan jasmaninya dan tumbuh dalam keadaan yang wajar baik jasmani maupun rohaninya. Cemas kalau-kalau jabang bayinya tidak normal baik jasmani dan rohaninya atau ada gangguan-ganguan yang tidak diinginkannya. Di samping itu derita jasmani si ibu menahan dikala melahirkan jabang bayinya tersebut.
Setelah jabang bayinya lahir, betapa kasih saying si ibu kepada anaknya, seakan-akan segala yang ada pada si ibu adalah untuk anaknya. Jiwa, raga perhatian, kasih saying semuanya ditumpahkan untuk si jabang bayi itu, agar si bayi selamat sentosa dalam pertumbuhannya menjadi manusia yang baik. Kata sanjung dan manjaan, kata timang yang mengandung doa dan harapan meluncur dicurahkan untuk si bayi, semoga kelak menjadi manusia yang ideal.
Mengapa demikian besar kasih sayang ibu kepada anaknya. Padahal sewaktu belum mengandung seakan belum mau mempunyai anak. Atau karena anaknya sudah dua tiga ingin tidak ada yang keempat. Tetapi karena dikarunia Tuhan anak yang selanjutnya kasih saying ibu tidak ada bedanya antara kepada yang pertama yang kedua dan seterusnya.
Dari mana datangnya cinta kasih saying kepada putranya, padahal tiada pamrih. Lain dengan cinta seorang kekasih kepada pacarnya, yang kalau kasihnya tiada terbalas bisa berbalik menjadi benci. Tetapi kasih ibu bagaimanapun tiada akan berubah dan hilang, walaupun si anak tiada membalas kasih dan cinta ibu.
Memang itu karena “Hidayah”, anugerah dari pada Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Hidayah itu tersebut insting atau naluri, dalam ilmu agama disebut “Hidayah-ghariziyyah”.
Beberapa perkara yang harus di perhatikan dan dilaksanakan oleh seorang anak kepada Orang tua yakni:
a.       Berbuat Baik kepada Ibu dan Ayah, Walaupun keduanya Lalim
b.      Berkata Halus dan mulia kepada Ibu dan Ayah
c.       Berbuat baik kepada Ibu dan atau Ayah yang sudah meninggal dunia
Bagaimana berbuat baik seorang anak kepada ayah dan atau ibunya yang sudah tiada. Hal ini agama islam mengajarkan supaya seorang anak:
a.       Mendoakan ayah ibu yang telah tiada itu dan memintakan ampun kepada Allah dari segala dosa orang tua kita. Doa yang sering di amalkan yakni:
اللَّهُمَّ اغْفِرْلىِ وَلِوَالِدَىَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِى صَغِيْرًا
b.  Menepati janji kedua ibu bapak, Kalau sewaktu hidup orang tua mempunyai janji kepada seseorang, maka anaknya harus berusaha menunaikan menepati janji tersebut. Umpamanya beliau akan naik haji, yang belum sampai melaksanakannya.
c.   Memuliakan teman-teman kedua orang tua. Di waktu hidupnya ibu dan ayah, beliau-beliau mempunyai teman-teman akrab, yang segulung-segalang orang tua kita dengan temannya.
d.   Bersilaturrahmi kepada orang-orang yang mempunyai hubungan dengan kedua orang tua.
3.      Akhlak Ayah dan Ibu
Ketika nabi Ibrahim masih kecil, berdialog kepada ayahnya tentang Tuhan. Dan kesimpulannya bahwa Tuhan telah member petunjuk kepada manusia bahwa memperTuhan benda adalah sangat keliru.
Dengan demikian, dunia anak sangat penting diperhatikan. Apabila keliru dalam mendidik akhlak anak, bisa jadi dunia anak akan tidak mengenal akhlak, yang lebih lanjut anak akan melakukan perbuatan yang abnormal kriminalitas dan lain sebagainya. Contoh dalam pendidikan akhlak, apabila anaka-anak sekolah berdusta di dalam segala apa yang mereka bicarakan, didukung para gurunya berdusta juga di dalam mengajar dan segala pembicaraannya, maka masyarakat (anak-anak) tidak dapat berujud. Dan apabila dunia anak terancam demikian, masyarakat yang akan dating tidak dapat berwujud karena adanya tiap-tiap yang dibicarakan menjurus dusta. Dan yang membekas dan berwujud pada masyarakat yang merusak dan rendah martabatnya.
Maka model mendidik akhlak anak, tidak langsung berkata itu baik, atau itu buruk, apabila seorang anak baru saja belajar membaca, menurut kita itu jelek/buruk namun kita tidak seharusnya berkata demikian. Sebab dapat menyakiti hati dan patah semangat. Tetapi kita beri semangat dan dorongan yang dapat memacu dan bergiatnya si anak.
4.      Akhlak kepada Anggota Masyarakat/ Jama’ah
Pokok utama kerasulan nabi Muhammad Saw adalah menyempurnakan akhlak yang mulia. Mencakup semua bentuk sikap dan perbuatan yang terpuji dikalangan orang-orang (masyarakat) yang bertaqwa. Di samping terpuji berdasarkan norma-norma yang ditetapkan Allah SWT.
Akhlak mulia merupakan akhlak yang berlaku dan berlangsung di atas jalur Al-Qur’an dan perbuatan nabi Muhammad Saw. Dalam sikap dan perbuatan. Dengan demikian setiap muslim diwajibkan untuk memlihara norma-norma (agama) di masyarakat terutama di dalam pergaulan sehari-hari baik keluarga rumah tangga, kerabat, tetangga dan lingkungan kemasyarakatan.
Tolong-menolong untuk kebaikan dan takwa kepada Allah adalah perintah Allah, yang dapat ditarik hokum wajib kepada setiap kaum muslimin dengan cara yang sesuai dengan keadaan objek orang bersangkutan, Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Maidah, ayat 2:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى البِرِّى وَالتَّقوَى وَلَاتَعَاوَنُوْا عَلَى الِاثْمِ وَالعُدْوَانِ {المائدة:2}
            Artinya:
            … dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebaikan dan taqwa, dan janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran/permusuhan”.
Dalam pergaulan yang sesuai dengan norma-norma agama, ada beberapa yang harus di perhatikan yakni bagaimana cara berbahasa, cara salam, cara makan dan minum, cara di majles pertemuan, cara minta ijin masuk, cara member ucapan selamat, cara berkelakar atau becanda, cara menjenguk orang sakit, dan cara ta’ziah.
5.      Akhlak Da’I/ Mubaligh
Telah jelas ujian bagi penyebar agama islam yang paling hebat adalah para nabi. Kemudian orang-orang saleh, para Da’i/ mubaligh yang menyeri atau mengangguk manusia untuk mentauhidkan Allah dan ikhlas dalam beribadah.
Dalam mempersiapkan diri yang telah mengikrarkan untuk berjalan mengikuti manhaj para nabi dalam dakwah, maka para nabi harus membekali diri dengan akhlakul karimah. Sebab Da’i/mubaligh di masyarakat menjadi suri tauladan secara langsung. Baik perilaku, sikap perbuatan maupun perkataannya.
Jalan yang harus ditempuh selanjutnya, da’I harus berusaha terus membersihkan jiwa. Segala apa yang mengganjal, menutup dan tersembunyi di hati nurani, Da’I harus berusaha juga menerangi segala rahasia dirinya. Dan senantiasa mohon petunujuk dan pertolongan dari Allah. Dengan demikian dirinya menjadi baik atas kuasa Allah SWT.
Para Da’i memiliki ilham yang merupakan martabat yang tinggi dalam dirinya yang selalu menghubungkan dengan Allah. Di dalam hati Da’I ada bisikan-bisikan yang benar yang berada pada lisannya karena tergisik dari hati yang bersih.
6.      Akhlak Pemimpin
            Tugas pemimpin tidak ringan. Tanggung jawab yang ia pikul senantiasa bernafaskan amanat. Baik amanat dari masyarakat/ warga atau Negara. Bahkan agama. Agama islam sangat memperhatikan masalah kepemimpinan. Menurut Islam. Semua pemimpin akan dimintai pertanggung jawabnya. Pemimpin keluarga bertanggung jawab atas kebahagiaan, kesejahteraan keluarganya, pemimpin Negara/bangasa akan dimintai pertanggung jawabnya oleh masyarakat dan lain sebagainya.
            Sebagai contoh seorang pemimpin sejati adalah Rasulullah Saw. dan para sahabatnya seperti Abu bakar sebagai orang yang berwibawa dan tenang. Oerangnya penuh ramah tamah, cinta sesama dan selalu membenarkan dan menepati pada rasul yang agung. Umar bin khotob sebagai pemimpin yang mempunyai pendapat yang berbobot. Dia adalah orang yang terpercaya terhadap rahasia-rahasianya. Utsman sebagai pengumpul firman Kitab Allah. Dia adalah seorang pemimpin yang meluruskan akida. Sedangkan Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin yang pandai menyusun pasukan perang untuk mengalahkan orang-orang jahat. Dan Ali adalah seorang pemimpin yang mampu sebagai pewaris ilmu rasullah dan pemelihara janjinya.
            Demikianlah akhlak pemimpin yang dicontohkan kepada kita untuk menjadi pemimpin sejati. Akhlak pemimpin baik, sebab sifat, perilaku dan sikapnya dapat membahagiakan orang lain (umat manusia) dan menampakkan karismatiknya pada yang dipimpin, jadi dapat dikemukakan di sini, bahwa pemimpin berakhlak baik apabila memiliki kepribadian yang sesuai dengan tata aturan (ketentuan) agama, masyarakat, keluarga dan Negara/bangsa.(6)


(6) Mustofa, A. Akhlak Tasawuf. (Bandung: Pustaka Setia, 2010). cet.V hlm. 153-196


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Secara sederhana Ahklak Islami dapat diartikan sebagai yang berdasar aliran islam atau Ahklak yang bersifat Islami.kata Islam yang berada di belakang kata Akhlak dalam  hal menepati posisi sebagai sifat.
Dengan demikian Ahklak Islami adalah perbuatan yang dilakukan dengan mudah,di sengaja,mendarah daging dan sebenarnya yang di dasarkan pada ajaran islam. Di lihat dari segi sifat yang Universal, maka Ahklak Islami bersifat Universal. Namun dalam rangka menjabarkan Akhlak Islam yang Universal ini di perlukan bantuan pemikiran akal manusia dan kesempatan social yang terkandung dalam ajaran etika dan moral. Adapun sumber akhlak islami adalah dari Al-Qur’an dan Al-Hadits, sedangakn ciri-ciri dari akhlak islami meliputi Kebajikan yang mutlak, Kebaikan yang menyeluruh, Kemantapan, Kewajiban yang dipatuhi, dan Pengawasan yang menyeluruh.
Sementara itu, ruang lingkup pembahasan akhlak islami terpusat kepada Akhlak pada Allah SWT, Sesama Manusia, dan lingkungan. Adapun keterkaitan akhlak islami dengan status pribadi, meliputi sebagai Hamba Allah, Anak, Ayah/Ibu, Anggota Masyarakat/Jama’ah, Da’i/Mubaligh, dan Pemimpin.
B.     Saran
         Makalah yang kami susun ini berusaha memaparkan materi tentang Akhlak Islami secara terperinci. Oleh karena itu, kami mengajak teman-teman pecinta ilmu agama islam untuk membaca dan memahami penjelasan yang dijabarkan di dalam makalah ini tentang Akhlak Islami dengan harapan dapat menambah khazanah pengetahuan tentang agama islam dalam ruang lingkup pembahasan Akhlak Islami yang didalamnya berisi tuntunan untuk kita menjalani bahtera kehidupan dunia yang fana ini serta penuh dengan tipu daya setan yang ingin menjerumuskan kita kedalam api neraka yang tanpa henti terus menyala.













DAFTAR PUSTAKA

1.      Al-Lu’la uwal Marjan I:8
2.      Mustofa, A. 2010. Akhlak Tasawuf. Bandung: Pustaka Setia
3.      Nata, Abudin. 2012. Akhlak Tasawuf. Jakarta: Rajawali Pers
4.      Shihab, M.Quraish. 1996. Wawasan Al-Qur’an. Bandung: Mizan

(1)                  Nata, Abudin. Akhlak Tasawuf. (Jakarta: Rajawali Pers, 2012). cet.XI hlm. 147-148
(2)      Shihab, M.Quraish. Wawasan Al-Qur’an. (Bandung: Mizan, 1996). cet.III hlm. 261
(3)                  Mustofa, A. Akhlak Tasawuf. (Bandung: Pustaka Setia, 2010). cet.V hlm. 149-152
(4)                  Shihab, M.Quraish. Wawasan Al-Qur’an. (Bandung: Mizan, 1996). cet.III hlm. 262
(5)                  Nata, Abudin. Akhlak Tasawuf. (Jakarta: Rajawali Pers, 2012). cet.XI hlm. 152

(6)                  Mustofa, A. Akhlak Tasawuf. (Bandung: Pustaka Setia, 2010). cet.V hlm. 153-196

Tidak ada komentar:

Posting Komentar